Biografi TB Cabup Parimo

image

Parigi – Lebih Dekat dengan Taswin Borman
Perjalanan panjang dalam hidup
seseorang selalu memuat sejumlah
pengetahuan. Hidup yang diawali
oleh kelahiran dan diakhiri pada
saat tertentu akan menciptakan
siklus kehidupan. Secara
antropologis, manusia dikenal
sebagai makhluk Tuhan yang
memiliki jiwa dan raga. Begitu juga
dengan konsepsi manusia menurut
Aristoteles, yakni zoon politikon
(makhluk yang berpolitik),
kemudian dikenal juga istilah homo
homuni lupus. Sementara dalam
sejarah manusia selalu dan
selamanya akan berstatus sebagai
pelaku sejarah dalam sebuah
peristiwa yang terjadi pada ruang
dan waktu tertentu. Pengetahuan
mengenai sejarah (seseorang)
manusia sebagai pelaku
membuatnya istimewa. Menjadikan
manusia sebagai kajian utama
dalam sejarah, pada hakikatnya
belum banyak dilakukan. Kajian
tentang manusia seringkali
ditemukan dalam biografi dan
autobiografi. Kemudian ada juga
feature, profil, sosok dan obituary.
Keempatnya memiliki perbedaan
antara satu sama lain, tetapi juga
memiliki persamaan. Persamaan
keempatnya adalah sama-sama
menjadikan manusia sebagai topik
kajiannya. Sementara perbedaannya
banyak sekali. Biografi ditulis oleh
ilmuwan dengan menjadikan
seorang tokoh sebagai pusat tulisan,
tetapi sang tokoh itu umumnya
telah meninggal dunia. Otobiografi
dibuat oleh seseorang mengenai
dirinya sendiri dan kehidupannya.
Feature ditulis untuk mengenang
seseorang yang dianggap memiliki
kelebihan yang dapat menjadi
pelajaran di masa depan.
Kemudian, obituary selalu bertutur
mengenai seorang tokoh yang baru
saja meninggal. Sedangkan profil
merupakan laporan singkat
mengenai satu sisi kehidupan
seseorang. Begitu juga dengan
sosok, istilah ini tidak jauh berbeda
dengan profil. Sulawesi Tengah
memiliki sejumlah tokoh lokal yang
mempunyai konstribusi terhadap
perkembangan Sejarah Sulawesi
Tengah. Tokoh-tokoh lokal di
Sulawesi Tengah berkiprah di
berbagai bidang kehidupan, salah
satunya adalah bidang politik.
Mereka umumnya berada pada
ranah politik praktis. Sehingga
banyak yang tampil sebagai anggota
DPRD Provinsi Sulawesi Tengah.
Kelompok tokoh dijajaran ini
berasal dari berbagai kabupaten
kota di daerah ini. Pada Pemilu
2009 yang lalu, Sulawesi Tengah
terbagi atas enam daerah
pemilihan. Salah satunya Dapil III
Kabupaten Parigi Moutong. Dapil
ini dikenal sebagai wilayah yang
sangat banyak jumlah pemilihnya,
sekaligus yang paling tinggi
partisipasi politik masyarakatnya.
Pemilih di Dapil ini telah memilih
seorang tokoh masyarakat yang
berasal dari Moutong, yakni Taswin
Borman, putera Daerah berusia 58
tahun. Siapa Taswin Borman?
Bagaimana proses hidupnya hingga
meraih gelar Magister? Bagaimana
perjalanan karier beliau hingga
menjadi anggota DPRD? Ketiga
persoalan inilah yang menjadi topik
pembicaraan kali ini. Taswin
Borman merupakan sosok yang
sangat familiar di Kabupaten Parigi
Moutong. Tokoh yang dikenal oleh
masyarakat Parigi sebagai sosok
yang baik dan mampu beradaptasi
maupun menerima siapa saja. Ia
adalah sosok pemimpin yang
berjiwa religius memiliki perhatian
kuat terhadap agama dan
kehidupan masyarakat. Masa Kecil
Dan Latar Belakang Keluarga
Saudara sepupu Politisi Sutomo
Borman ini lahir pada tanggal 5
Maret 1951 di Moutong. Ia (Taswin
Borman) atau yang akrab dipanggil
‘Ka Ino’ terlahir dari keluarga
aristokrat Kerajaan Moutong. Hal
ini diasumsikan sebagai sebuah
keunggulan tersendiri bagi dirinya
yang juga politisi. Legitimasi rakyat
Moutong sangat terasa
pengaruhnya. Ayahnya Abdullah
Borman merupakan keturunan
langsung Borman salah satu
aristokrat Kerajaan Moutong dan
ibunya bernama Non Nusi wanita
beruntung dari Gorontalo. Anak
ketiga dari sembilan bersaudara ini
memiliki saudara-saudara antara
lain, Ulfa Borman, Ismet Borman,
Parni Borman, Rosni Borman, Marni
Borman, James Borman, Rusli
Borman, dan Henni Borman. Taswin
Borman hidup dalam bingkai
keluarga yang baru saja mengakui
keberadaan dan kemerdekaan
Indonesia. Artinya keluarga
aristokrat Moutong telah
menyerahkan hak dan kekuasaan
atas tanah dan segala simbol-
simbolnya ke NKRI. Di masa lalu
keluarga ini begitu superiot.
Sehingga pergerakan dan
penggambungan secara sukrela ini
telah berhasil mempengaruhi opini
dan status sosial mereka di mata
masyarakat. Situasi itu berlangsung
dari tahun 1945-1959, ketika status
wilayah Swapraja dihapuskan
pemerintah. Taswin Borman lahir
pada periode itu, tepatnya pada 5
Maret 1951. Anak laki-laki dari
keluarga ini tumbuh sebagai anak
yang mandiri. Bermain bersama
kawan-kawan kecilnya, dan juga
saudara-saudara adalah agenda
hariannya. Ia menghabiskan masa
kecilnya di Moutong yang saat itu
merupakan pusat dari kerajaan
Moutong. Taswin Borman masih
mengingat beberapa sahabat
kecilnya, seperti Ibrahim, Hasan,
dan lainnya yang hingga kini
kenangan tersebut masih
mengabadi dengan kuat. Walaupun
kini mereka telah lama terpisah
oleh waktu dan ruang. Pada usia 6
tahun, putera Moutong yang satu
ini mengalami sebuah revolusi
paling penting dalam hidupnya.
Tahun 1957, ia mengawali
kehidupan baru sebagai seorang
murid di Sekolah Rakyat Moutong.
Sekolah Rakyat yang dibangun oleh
Pemerintah Hindia Belanda pada
tahun 1915. Awalnya sekolah ini
hanyalah Sekolah Rakyat Kelas 3.
Kemudian ditingkatkan menjadi SR
Kelas 6 pada tahun 1936 dan
akhirnya pada tahun 1952 dijadikan
sebagai SR Kelas Enam. Dengan
demikian, Taswin Borman menjadi
murid di sekolah tersebut ketika
telah menjadi SR Kelas 6 atau biasa
disebut SR saja. Selama di SR,
Taswin Borman tidak pernah
tinggal kelas. Dia termasuk salah
seorang murid yang cerdas.
Kecerdasan biasanya menjadi
pemicu timbulnya animo dan
motivasi untuk menuntut ilmu ke
jenjang yang lebih tinggi. Sejak Dini
Politisi ini sudah ikut aktif di
kegiatan-kegiatan ekstra sekolah.
Pengalaman inilah yang menjadikan
beliau hingga saat ini selalu aktif
dalam kegiatan-kegiatan sosial
masyarakat. Enam tahun berlalu di
SR seperti tidak terasa, terlewati
begitu saja dengan sejumlah
kelakuan-kelakuan yang unik dan
lucu jika diingat sekarang ini.
Akhirnya pada tahun 1963 ia dan
seluruh murid di Sekolah tersebut
dinyatakan lulus. Pada bulan
Desember 1963, Beliau terdaftar
sebagai seorang siswa di Sekolah
Menengah Pertama di Parigi. Saat
itu SMP Parigi belum lama
didirikan oleh pemerintah. Sekolah
ini telah memberi peluang kepada
penduduk Pantai Timur Kabupaten
Donggala. Ketika itu wilayah
Moutong berada di bawah
pemerintahan Kabupaten Donggala,
melalui kewedanaan yang
kemudian sesuai Peraturan Daerah
berubah menjadi Pembantu Bupati
wilayah Pantai Timur. Istilah
Pembantu Bupati wilayah Pantai
Timur berkahir pada tahun 2002,
ketika wilayah Parigi Moutong
dimekarkan dari Kabupaten
Donggala. Sejak tahun 1952, kondisi
dan situasi ini sudah berlangsung.
Parigi sebagai satu-satunya
kecamatan yang telah berbenah dan
mulai menunjukkan cirinya sebagai
kota kecil. Parigi berposisi sebagai
pusat, sedangkan daerah sekitarnya
baik desa-desa yang ada di
kecamatan lainnya berfungsi
sebagai periperi. Posisi ini yang
membuat pemerintah membuat
kebijakan untuk mendirikan
sekolah di Parigi sebagai bentuk
dari perwujudan pelaksanaan UUD
1945 pada bidang pendidikan
“Mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Tiga tahun lamanya, ia menuntut
ilmu di sekolah tersebut. Pada
tahun 1966, Taswin Borman lulus
dari SMP tersebut. Rupanya
keadaan atau rutinitas pendidikan
di Parigi tidak banyak terganggu
oleh kondisi dan situasi politik di
tingkat nasional. Padahal beberapa
desa di wilayah Pantai Timur
dikenal sebagai basis Partai
Komunis Indonesia. Selulus dari
SMP Parigi, Taswin Borman
mengikuti Pendidikan di Tinombo
selama satu tahun (1966-1967)
kemudian pada tahun 1967 ia
melanjutkan pendidikannya di
Gorontalo. Ia berangkat bersama
dengan sang kakak. Ia masih
mengingat kisah perjalanan ke
Gorontalo menuntut ilmu. Mengapa
ia tidak memilih Palu atau Donggala
sebagai tempat untuk menuntut
ilmu? Jawabannya sederhana saja,
jarak antara Moutong dengan Palu
dan Donggala yang cukup jauh.
Kemudian kondisi jalan dan alat
transportasi yang belum memadai
menjadi kendala tersendiri. Kedua
kota itu hanya dapat ditempuh
dengan perjalanan darat saja. Jarak,
kondisi jalan, alat transportasi, dan
sarana transportasi yang belum
mamadai dianggap sebagai sebuah
tantangan terberat pada masa itu.
Olehnya itu, pilihan jatuh ke
Gorontalo. Ada dua alasan, yaitu (1)
jarak antara Moutong dan
Gorontalo yang relatif tidak jauh
adalah faktor utama pilihan itu. (2)
Kondisi Sarana dan Prasarana ke
Gorontalo sudah lancar meski
belum memadai. Apalagi kota ini
dapat dijangkau melalui jalur darat
dan laut. Pelabuhan rakyat
Moutong juga berfungsi untuk
menghubungkan antara Moutong
dengan Gorontalo. Itulah dasar
pilihan tersebut. Walaupun Kota
Gorontalo hanyalah sebuah daerah
tingkat dua saja yang berada di
bawah pemerintahan Provinsi
Sulawesi Utara. Tahun 1969, Taswin
Borman lulus SMA Negeri
Gorontalo. Semangat menuntut ilmu
terus membubung tinggi. Atas
persetujuan Ibunda tercinta ia
berangkat ke Kota Manado. Di Kota
ini ia mendaftar pada Universitas
Samratulangie Manado. Pilihan
terhadap Universitas Samratulangi
tidak pernah lepas dari tiga hal,
yaitu (1) Tahun 1960-an akhir, Kota
Manado menjadi salah satu tujuan
masyarakat, khususnya pemuda
Sulawesi Tengah untuk menuntut
ilmu. Popularitas Manado bagi
masyarakat pendidikan Sulawesi
Tengah bersaing dengan
Yogyakarta, Jakarta, Makassar, dan
Surabaya. Selain itu kota ini mudah
dijangkau dan ditunjang dengan
akses yang begitu mudah. (2)
Adanya pengaruh dari para
pendidik yang dikirim atau
didatangkan oleh Pemerintah
Hindia Belanda ke Sulawesi Tengah
pada periode awal abad 20 untuk
mengajar di berbagai sekolah
pemerintah. Sehingga di Sulawesi
Tengah banyak sekali ditemukan
guru-guru yang berasal dari
Sulawesi Utara. Kualitas mereka
yang mendapat pola pendidikan
Belanda sangat mengagumkan,
maka beberapa orang siswa
memilih Manado sebagai tempat
untuk mencari ilmu. (3) Akses
Moutong melalui Gorontalo sangat
mudah daripada daerah lain. Oleh
karena itu, pilihan ke Manado
diangap lebih rasional dari pilihan
yang lain. Di Universitas
Samratulangi beliau memilih untuk
kuliah di Jurusan Administrasi
Negara, sebuah jurusan bergengsi
pada masanya. Tiga tahun lamanya
ia menuntut ilmu di jurusan
Administrasi Negara Universitas
Samratulangie. Pada tahun 1973,
Taswin Borman lulus dari
perguruan tinggi dengan gelar
Sarjana Muda. Tiga tahun sangat
pas dengan waktu kuliah. Setelah
meraih gelar Sarjana Muda, setiap
individu Mahasiswa berusaha
meraih gelar Sarjana Lengkap.
Menurut John Maxwell dalam buku
Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual
Muda Melawan Tirani bahwa tugas
utama yang masih harus dikerjakan
untuk meraih gelar sarjana penuh
adalah menyerahkan skripsi sesuai
dengan disiplin ilmu yang
dipilihnya. Sekolah di Manado tidak
ia jalani begitu saja, selain
menuntut ilmu secara formal di
Bangku kuliah ia juga ikut berbagai
latihan-latihan kepemimpinan.
Ketika masih berada di Manado, ia
pernah mengikuti Latihan
Kepemimpinan Mahasiswa (LKM) di
Manado. Kegiatan ini dapat
dipastikan sebagai kegiatan
pelatihan lanjutan setelah mereka
berhasil melakukan Latihan Dasar.
Selain itu, ia juga mengikuti
Penataran Pelatihan dan Simulasi
P4 oleh BP7 Manado. Tidak puas
dengan tingkat pendidikannya,
sehingga hanya memperoleh gelar
Sarjana Muda, maka Taswin Borman
kembali melanjutkan kuliahnya
lagi. Namun kali ini ia tidak
memilih Manado lagi, melainkan ke
Makassar. Ia memilih melanjutkan
ke Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi
Lembaga Administrasi Negara (STIA
LAN). Sekolah Tinggi ini menjadi
favorit bagi para Pegawai Negeri
Sipil yang berijazah Sarjana Muda
untuk melanjutkan studinya. Selain
beliau masih banyak para PNS di
Sulawesi Tengah yang kuliah di
sana. Salah satunya adalah
Chaerudin Zen yang saat ini
menjadi teman duduk beliau di
Kursi DPRD Provinsi Sulawesi
Tengah. Pendidikan di Sekolah
Tinggi tersebut diselesaikan pada
tahun 1984. Sebelas tahun setelah
menyelesaikan studi di Universitas
Samratulangie Manado. Ia menulis
skripsi yang berjudul, “Peranan
Staff Dalam Pelaksanaan Tugas
Umum Pemerintahan dan
Pembangunan Pada Kantor Daerah
Tingkat I Sulawesi Tengah Ditinjau
Dari Segi Manajemen”. Konstribusi
Universitas diluar daerah terhadap
perkembangan Pendidikan di
Sulawesi Tengah memang sangat
besar. Universitas mengemban
tugas penting pendidikan
masyarakat yang melakukan studi
Perguruan Tinggi, sebagaimana
dikemukakan oleh Hovda, J. A.
Ponsioen, dan Astrid Susanto.
Menurut Hovda bahwa universitas
merupakan suatu pusat pendidikan
dan persiapan dari sumber-sumber
tenaga manusia sehingga
universitas perlu memberikan
landasan moral, politik dan
kemampuan kepada anak didiknya.
Hampir senada dengan Hovda, J. A.
Ponsioen menyatakan bahwa
universitas mendidik kearah
penyesuaian diri dengan
lingkungan, melalui proses
sosialisasi sehingga anak didiknya
dapat menjadi anggota masyarakat
yang baik dan mempunyai tempat
dalam lingkungannya. Kemampuan
ini akan dicapai oleh anak didiknya
melalui kombinasi dan penyatuan
antara nilai-nilai dan pengetahuan
ilmiah dengan nilai-nilai dan moral
masyarakatnya. Melengkapi
perjalanan hidupnya serta
kehidupan keluarganya ia
kemudian berfikir untuk menjalin
rumah tangga. Ia menikah dengan
gadis keturunan gorontalo bernama
Hayati Muhammad. Dari
pernikahannya ia di karuniai dua
orang anak laki-laki. Sebagai
seorang ayah ia menganggap terasa
lengkap sudah keluarganya, karena
selain dua jagoan kecilnya ia juga
memiliki dua orang putri. Dua
orang puterinya diberi nama Yunita
Wahyuni Borman dan J.
Rachmawaty Borman, kemudian dua
orang puteranya ia beri nama
Darmawan Ashari Borman dan Moh.
Ikram borman. Tujuh belas tahun
kemudian setelah selesai di Sekolah
Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga
Administrasi Negara (STIA LAN)
Makassar, tepatnya pada tahun
1984. Untuk menambah wawasan
dan pengetahuannya tentang
Administrasi, ia kemudian memilih
melanjutkan pendidikannya di
Pascasarjana Universitas
Hasanuddin di jurusan Kebijakan
Publik. Tahun 2001, beliau lulus
dari program Pascasarjana
Universitas Hasanuddin Makassar
dengan menulis Tesis yang berjudul
“Analisis Partisipasi Masyarakat
dalam Program Pembangunan
Prasarana Dasar Pemukiman
Pedesaan di Kabupaten Parigi
Donggala” Tesis inilah yang dapat
dijadikan sebagai bentuk
pembuktian mengenai kemampuan
dirinya sebagai seorang birokrat di
Sulawesi Tengah yang betul-betul
paham dengan tugas pokok dan
fungsinya. Selama menjadi Pegawai
Negeri Sipil, beliau pernah
mengikuti berbagai kursus dan
diklat, seperti Kursus Manajemen
Proyek di Palu, Pendidikan dan
Pelatihan Penyusunan Modul di
Jakarta, Pendidikan dan Pelatihan
Sistem Administrasi Negara,
Pendidikan dan Pelatihan
Pengelolahan Peningkatan
Pemerintahan Desa (PEMDES),
Pendidikan dan Pelatihan
Trasformasi Budaya Kepemimpinan,
Pendidikan dan Pelatihan Nasional
Teknik Penyusunan Dokumen
Nasional, dan Pendidikan dan
Pelatihan Aparatur Negara.
Pengalaman mengikuti berbagai
macam kegiatan membuat dirinya
semakin matang dalam menentukan
pilihan yang tepat dalam perjalanan
hidupnya . Riwayat Organisasi Sang
Tokoh Pulang dari Manado, setelah
meraih gelar Sarjana Muda, ia mulai
aktif dalam organisasi sosial
kemasyarakatan. Tahun 1975, dua
tahun setelah lulus kuliah di
Manado, Taswin Borman didaulat
untuk menjadi Koordinator Buruh
Remaja. Dua tahun berikutnya
(1977), beliau masuk sebagai
anggota KOPRI. Tahun 1978, ia
diangkat menjadi Pengurus
Angkatan Muda Pembaharuan
Indonesia (AMPI). Pada tahun yang
sama pula, ia didaulat untuk masuk
ke jajaran pengurus Komite
Nasional Pemuda Indonesia Dati I
Sulteng. Kemudian ia merambah ke
organisasi kepemudaan lainnya,
yaitu KOSGORO Propinsi Sulawesi
Tengah, saat itu dia ditunjuk untuk
menjadi pengurus pada tahun 1980.
Selama delapan belas tahun, beliau
tampil dalam ketiga organisasi yang
berbasis pemuda tersebut. Pada
tahun 1998, pasca Orde Baru, angin
perubahan bertiup kencang. Taswin
Borman pun ikut terseret ke dalam
angin perubahan tersebut. Namun
ia tidak larut dalam perubahan itu.
Di tahun itu, ia didaulat untuk
menduduki jabatan sebagai
Sekretaris Sarjana Administrasi
Provinsi Sulawesi Tengah. Tahun
itu pula, ia merasa terpanggil untuk
mengembangkan dunia olahraga di
Sulawesi Tengah. Sehingga diangkat
menjadi Wakil Bendahara Komite
Olahraga Nasional Indonesia (KONI)
Daerah Provinsi Sulawesi Tengah
periode kepengurusan 1998-2002.
Saat itu, KONI dipimpin oleh H.B
Paliudju. Satu tahun setelah
diangkat sebagai Wakil Bendahara
Komite Olahraga Nasional Indonesia
(KONI) Daerah Provinsi Sulawesi
Tengah, ia diangkat lagi menjadi
Wakil Ketua IV Kwartir Daerah
Gerakan Pramuka periode
1999-2002. Tahun itu pula, ia
kembali diangkat untuk menduduki
jabatan sebagai Ketua Badan Amil,
Zakat, Infaq, dan Sadakah (BAZIS)
Provinsi Sulawesi Tengah. Selain
itu, masih ada beberapa organisasi
lain yang ikut menghiasi perjalanan
karir sang politis seperti Ketua
Taekwondo Kabupaten Parigi
Moutong, Penasehat Kerukunan
Keluarga Lamahu Gorontalo (KKLG)
Kabupaten Parigi Moutong, dan
Pembina Persatuan Anak
Transmigrasi Indonesia Provinsi
Sulawesi Tengah. Bagi Taswin
Borman, keikutsertaannya ke dalam
organisasi memberinya peluang
dalam pertarungan politik yang
sebenarnya. Organisasi pada
dasarnya tidak terlalu penting bagi
mereka yang tidak pernah
menyadarinya. Keterlibatan dalam
beberapa organisasi di atas, pada
dasarnya memberi jalan secara
politik bagi sang pelaku. Pelaku
dapat saja menyuarakan kebenaran,
tanpa pemikiran bahwa masih ada
orang lain yang butuh dengan
dirinya. Politik menurut
pendapatnya ialah “ Ilmu dan Seni
agar seseorang dapat (bisa)
mempengaruhi orang lain dalam
rangka menyukseskan program
hidupnya”. Jabatan terakhir selama
berkecimpung di dunia birokrasi
adalah Sekretaris Daerah
Kabupaten Parigi Moutong pada
tahun 2002. Kemudian pada tahun
2006 diangkat sebagai pejabat
Widyaiswara Madya Provinsi
Pemerintah Daerah Sulteng. Pada
tahun 2007 oleh Gubernur Sulawesi
Tengah, ia diangkat sebagai Asisten
Administrasi Setdaprov Sulteng.
Selesai mengemban tugas sebagai
Asisten II gubernur Sulawesi
Tengah, ia berpasangan dengan
mantan Wakil Bupati, Ir. H. Asmir
Ntosa, M. Si. tampil sebagai Calon
Wakil Bupati Parigi Moutong
periode 2009-2012 mendampingi
Asmir Ntosa. Namun hasil
pemilihan menyatakan lain dari
harapan para pendukungnya. Pada
pemilihan kali itu, ada tiga orang
dari keluarga Borman yang hadir di
panggung persaingan politik
memperebutkan Kursi Bupati dan
Wakil Bupati Parigi Moutong.
Namun Sutomo Borman, sang
sepupu meninggal dunia sebelum
diadakannya Pesta Demokrasi
tersebut. Meski tidak mendapatkan
Posisi yang diharapkan beliau tidak
pernah kecewa dengan keadaan
yang ada, karena menurut
pendapat beliau “Jabatan
merupakan suatu rezeki dan
cobaan dari Allah, jika belum
berhasil maka itu bukan rezeki kita
dan jika kita diberikan kesempatan
untuk menjadi pemimpin maka itu
adalah cobaan untuk menjadi
Teladan karena semestinya
Pemimpin ialah Teladan”. Ada tiga
hal menarik dari keterlibatan
Taswin Borman dalam organisasi
sosial, yakni pertama, dari kurang
lebih Tiga Puluh organisasi yang
diikutinya. Ketiga Puluh organisasi
tersebut dapat dikategorikan ke
dalam enam kategori, yaitu Sosial
Keagamaan (BAZIS), sosial
kemasyarakatan (Anak
Transmigrasi Indonesia, LPTQ, KKIG
Parigi Moutong, serta Gerakan
Pramuka), organisasi massa
(Buruh,), Organisasi Profesi (Korpri
dan Sarjana Administrasi Sulawesi
Tengah), Organisasi Pemuda (AMPI,
KNPI, dan KOSGORO), dan
organisasi olahraga (KONI dan
Persatuan Taekwondo Indonesia
Sulawesi Tengah). Kedua, Masih
ada ciri dasar sebuah organisasi
sosial yang memilih para birokrat
sebagai pengurusnya. Hal ini
biasanya tidak pernah
dipermasalahkan oleh anggota.

Inilah yang menjadi satu ciri organisasi sosial kemasyarakatan di Sulawesi Tengah. Ketiga, ada sebuah siklus yang terbentuk dari keterlibatan beliau dalam setiap organisasi. Pada periode awal, Taswin Borman masuk ke organisasi massa, kemudian ke organisasi profesi, seterusnya organisasi kepemudaan. Setelah itu, ia masuk ke organisasi keagamaan, yaitu BAZIS, selanjutnya organisasi olahraga, dan terakhir ke organisasi sosial kemasyarakatan. Riwayat Pekerjaan. Menjelang pertengahan tahun 1970-an, beliau telah mejadi seorang PNS. Hal ini dibuktikan dengan keterlibatannya sebagai anggota Kopri. Inilah awal perjalanan Karier beliau yang cukup cemerlang. Hingga akhirnya ia tiba dipuncak, yaitu ketika menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Parigi Moutong.

Kariernya ia mulai pada tahun 1973
sebagai Staff Biro Pemerintahan
Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi
Tengah dengan gaji Rp. 120,00 /hari
sampai akhirnya ia mendapat gelar
PNS pada tahun 1977. Kemudian
pada tahun 1978 ia diangkat sebagai Kepala Seksi Statistik Penduduk Biro Pemerintahan Setwilda Tingkat Sulteng. Satu tahun kemudian ia diangkat sebagai Kepala Sub Bagian Pemasaran Biro Bina Pengembangan Sarana Perekonomian Daerah Setwilda tingkat I Sulteng. 1985 ia diangkat sebagai kepala Sub Bagian Umum BP-7 Dati I Sulteng Pemda Tingkat I Sulteng. Pada tahun 1991 ia diangkat sebagai Kepala Bagian Pendidikan dan kebudayaan Biro Binsos dan Mental Spritual Setwilda Tingkat I Sulteng. 1993 beliau diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai Kepala Bagian Tata Usaha Diklat Provinsi Sulteng. Tahun 1995 ia diangkat sebagai Kepala Bidang
Penjenjangan Diklat Provinsi Sulawesi Tengah. Tahun 1997 ia dipercayakan untuk menjabat sebagai Kepala Biro Bina Sosial Setwilda Tingkat I Sulteng. Pada Tahun 2000 ia diangkat sebagai Kepala Kantor PMD Provinsi Sulawesi Tengah. Tahun 2002 dia dipercaya sebagai Sekretaris daerah Kabupaten Parigi Moutong. Tahun 2006 ia diangkat sebagai Widyaiswara Madya Provinsi Pemda Sulteng. Tahun 2007 diangkat sebagai Assisten Administrasi (II) Setda Prov Sulteng. Selain aktif di bidang politik ia juga aktif dibidang pendidikan, ini terbukti setelah ia
menyelesaikan pendidikan Magister
Sosial Inquary (M.Si), Taswin Borman mendapat kesempatan untuk menjadi dosen pada beberapa Perguruan Tinggi di Palu.
Pertama kali, ia diangkat sebagai
Dosen Tidak Tetap di STIM Pancabakti Palu. Kemudian dia diangkat sebagai Dosen Tidak Tetap di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Panca Marga Palu.

Selanjutnya masih pada posisi yang
sama, yakni diangkat sebagai Dosen
Tidak Tetap Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Panca Bhakti Palu. Selain itu, ia diangkat sebagai Penatar Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila. Ia diangkat oleh BP7
sebelum Orde Baru lengser ke prabon. Hal yang menarik saat mengkaji Riwayat pekerjaan Taswin Borman, Ia tidak hanya memiliki jabatan Struktural akan tetapi juga memiliki pangkat fungsional.

Pangkat structural terakhir yang ia
dapatkan ialah IV E, namun sejak tahun 1987 berdasarakan SK Kopertis wilayah IX (Makassar) ia telah dianugerahi Jabatan Fungsional akademik sebagai asisten ahli yang kemudian ia benar-benar mengabdikan dirinya kepada pendidikan sampai pada tahun 2006 mendapatkan pangkat atau jabatan Widyaswara Madya (Luar Biasa) IV C. Inilah yang menjadi bukti keseriusannya memikirkan pendididkan di Sulawesi Tengah, ia berani mengambil resiko berhenti sebagai Sekab Parigi Moutong dan mengajar sebagai Widyaswara. Kehidupan Masa kini sang Politisi Selain sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, hingga kini ia masih aktif dalam organisasi masyarakat. Ia berasumsi bahwa tidak ada kata berhenti untuk belajar. Selain masih sibuk dengan tugasnya sebagai wakil rakyat, Laki-laki yang memiliki prinsip Belajar tidak mengenal usia ini juga masih aktif mengajar di beberapa Universitas di Kota Palu. Diluar tugasnya tersebut ia masih memiliki Jiwa Organisasi yang kuat. Ini dapat dilihat dari organisasi yang kini sedang ia tangani. Ia saat ini menjabat sebagai Ketua Gapenta (Gerakan Pemuda Anti Rokok dan Narkotika), ketua harian FORKI (Front Olahraga dan Karate), Ketua KKIG ( Kerukunan Keluarga Indonesia Gorontalo), Pembina Kerukunan Keluarga Mandar di Parigi serta Penasehat Taekwondo kabupaten Parigi Moutong.

Kesibukan lain yang telah menyita
waktunya adalah mengajar sebagai
seorang Widyaswara. Meski telah
menjadi seorang anggota DPRD ia
tidak pernah lupa dengan tugas lamanya sebagai pengajar. Selain
sebagai tugas wajib ia juga telah
menganggap Pendidikan adalah bagian dari hidupnya. Setelah jabatan Widyaswara Madya (luar biasa) diberikan kepada beliau, menambah motivasinya untuk belajar dan mendidik. Penghargaan sebagai Widyaswara luar biasa inilah yang membuktikan bahwa beliau merupakan tokoh yang dianggap mampu dan dibutuhkan guna mengembangkan pendidikan di Sulawesi Tengah. Sebagai pembuktian atas jasa-jasa dan keaktifannya memajukan pengetahuan dan organisasi masyarakat, beberapa organisasi memberikannya Penghargaan seperti Ahli Karya Award pada tahun 1988 dari Yayasan Pendukung Karier dan Prestasi, Citra Mandiri award Tahun 1999 dari Yayasan Restu Bunda, Program Pertukaran Pemuda Tahun 1999 dari Dirjen DIK Menpora Depdikbud, Citra Kepeloporan Tahun 1999 dari Yayasan Pendukung Karier Prestasi, Satya Lencana karya setya tahun 2000 dari Presiden RI, dan Ahli Karya Nusantara Tahun 2005 dari Karya Abadi Pembangunan. Taswin Borman: Penyambung Lidah Rakyat Sebagai bukti pengabdiannya dan perhatiannya terhadap masyarakat
Sulawesi Tengah khususnya
masyarakat Parigi Moutong yang telah memilihnya sebagai wakil rakyat Parigi Moutong di gedung DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Drs H Taswin Borman M.Si menggelar reses di beberapa Kecamatan seperti Kecamatan Moutong, Taopa, Lambunu, Tomini, Palasa, tinombo, Kasimbar, Dolago, Balinggi, Sausu.

Beberapa waktu yang lalu ia mengunjungi dua daerah yaitu
kecamatan Moutong dan kecamatan
Taopa. Saat reses di kecamatan ini,
warga setempat meminta dibuatkan
gerbang di tapal batas yang menandai wilayah administratif Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Menurut Taswin, usul warga tersebut adalah sesuatu yang perlu ditindaklanjuti dan seharusnya kata mantan Sekkab Parimo ini, perlu ada pemisah yang menandai batas sebuah wilayah pemerintahan baik itu antar kabupaten terlebih lagi antar provinsi. Selain soal tapal batas, masyarakat dibagian timur Provinsi Sulawesi Tengah juga merasa masih butuh beberapa bangunan-bangunan administrasi seperti kantor camat Moutong dan perbaikan jalan menuju wilayah Timur Sulteng ini. Menurut Taswin, jika dipilah-pilah mayoritas aspirasi warga yang dikemukakan di dua kecamatan tersebut adalah kewenangan pemerintah kabupaten. Namun demikian, ia juga merasa perlu untuk menyampaikan aspirasi rakyat tersebut kepada pemerintah Kabupaten Parigi Moutong. Katanya, pihaknya menerima semua aspirasi tersebut, untuk kemudian dikomunikasikan dengan pemerintah kabupaten Parimo.

Sedangkan aspirasi yang bisa ditangani oleh pemerintah provinsi,
akan dilaporkan di dewan untuk
kemudian menjadi sikap resmi dewan agar ditindaklanjuti. Taswin meminta pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, melibatkan anggota dewan asal Parigi Moutong pada Forum Musrenbang tingkat kabupaten. Setidaknya agar pihaknya bisa mendengar, menyaksikan dan menyimak langsung program-program kabupaten yang bisa disinkronkan dengan provinsi. “Jangan sampai program provinsi di kabupaten tidak ketahui oleh pejabat setempat”, katanya. Bagaimanapun juga masyarakat Parigi Moutong telah mempercayakan dirinya sebagai penyambung lidah rakyat untuk disampaikan kepada pemerintah. Ia juga merasa sebagai perwakilan rakyat merasa memiliki peran sebagai pengemban “mandat” rakyat yang memiliki kewajiban untuk bicara dan bertindak atas nama masyarakat. Taswin Borman di Mata Orang-orang sekitarnya Anggota DPRD Sulawesi Tengah ini dikenal sebagai sosok pemimpin yang ramah, berwibawa, santai dan baik dimata rekan-rekan mengajarnya maupun masyarakat.

Dimata para Staff Kediklatan BKPPD Provinsi Sulteng ia dikenal selain Sebagai anggota DPRD Provinsi, beliau masih tetap aktif mengajar dan mendidik Peserta Diklat Pim (Pimpinan) III dan IV (Pemda maupun Kabupaten). Ia tidak memposisikan dirinya sebagai pejabat meski ia seorang anggota DPRD. Beliau Smart, low profile, bisa beradaptasi dengan siapa saja sehingga mudah diterima oleh orang lain namun tetap berwibawa.

Lain pendapat Staff, lain pula pendapat rekan seprofesi Widyaswara, Beliau terkenal baik dan ramah. Dalam mengajar pun ia santai dalam memberikan materi, meski ia spesialis materi Pelayanan Prima namun bisa mengajar materi-materi lainnya. Itu membuktikan bahwa beliau ialah orang pendidikan. Ia memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap pendidikan. Sifat dan tingkah lakunya yang bisa beradaptasi dan membaur dengan siapa saja ternyata tak pernah lepas dari pedoman hidupnya bahwa hari ini kita menanam yang terbaik meski esok kita tidak bisa memetik
hasilnya. Berusaha berbuat baik
kepada orang lain, meski bukan
orang itu yang akan membalas
kebaikan kita namun masih banyak
orang yang lainnya. Di mata masyarakat, Taswin pun dikenal sebagai pemimpin yang baik, ia tidak pernah membedakan mereka yang berasal dari kalangan atas atau dari kalangan bawah. Ia menerima dan bersosialisasi dengan siapa saja. Beliau tidak segan-segan singgah dan menginap dirumah penduduk. Sebagai wakil rakyat ia berpendapat bahwa tugas pemerintah itu ialah,
Yang pertama Berusaha agar bagaimana masyarakat itu bisa cerdas.
Kedua, Masyarakat harus sehat.
Ketiga, Menyejahterakan masyarakat.
Keempat, Melayani masyarakat dengan baik. Dasar itulah menyebabkan ia berani berinteraksi dan diterima masyarakat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s