Analisis Pemain Juventus Beserta Roy Suryo

Dapet ide buat analisis tentang Peluso, Padoin & Roy Suryo. Sebelumnya ada teman kampus wawancara saya mengenai pertandingan inkonsisten “Si Nyonya Tua” Juventus. Berikut ini analisis saya.

Kekalahan Juventus atas Sampdoria pada
6 Januari kemarin banyak dinilai sebagai
kegagalan Peluso dalam mengantisipasi 2
peluang Sampdoria melalui Icardi.
Mereka menganggap tak sepantasnya pemain baru seperti dia tiba-tiba dipercaya mengisi pos vital di jantung pertahanan klub sebesar Juventus.

Seminggu kemudian, tepatnya 13 Januari
2013. Juventus kembali tampil buruk dengan hanya membawa pulang 1 poin dari Ennio Tardini. Pemain yang banyak dipersahakan pada pertandingan ini adalah Simone Padoin. Sebagai pemain sayap kiri ia dinilai gagal mengemban tugasnya untuk “menghidupkan” sektor kiri Juventus.

Kembali ke tanah air, tepatnya di arena
politik, warga Indonesia tiba2 dikejutkan oleh penunjukan seorang ahli IT bernama Roy Suryo sebagai Menteri Pemuda dan Olah Raga. Banyak yang mencibirnya lantaran ia dianggap tidak capable menduduki jabatan bergengsi itu.

Lantas apa hubungannya kedua pemain
Juventus (Peluso & Padoin) dengan pakar telematika seperti Roy Suryo?

Seperti yang tersirat di atas, ketiganya adalah pihak yang banyak dicerca oleh orang-orang karena dianggap sebagai pihak
yang bertanggung jawab atas sebuah kegagalan.

Tapi dari sudut pandang saya, mereka
bukanlah orang yang harus bertanggung-
jawab atas kejadian di atas, sebab mereka hanyalah menjalankan tugas & perintah dari atasannya.

Dimulai dari Peluso, ia tidak bisa disalahkan sepenuhnya kenapa ia begitu buruk mengawal pertahanan Juventus kala itu. Ingat, ia baru 3 hari bergabung ke klub sebesar Juventus tanpa adaptasi lebih dengan pola permainan klub barunya serta gaya main rekan setimnya, kemudian langsung disuruh mengisi posisi vital sebagai starter. Jadi, seharusnya bisa dimaklumi jika ia tampil dibawa harapan.

Kedua, Padoin!
Ia juga tidak hisa disalahkan sepenuhnya
karena telah gagal menjadi sayap kiri
yang baik. Ingat dia posisi aslinya bukanlah sayap kiri, dan diperparah: dia bukanlah pemain kidal, bahkan “kidal passif” pun tidak!. Tiba-tiba entah ada angin apa sehingga pelatih menyuruh dia sebagai sayap kiri, padahal stok sayap kiri Juve masih ada De Ceglie. Sebagai pemain yg menerima perintah dari pelatihnya untuk menepati posisi baru, ia tentu menerima-menerima saja meskipun belum pernah menempati posisi tersebut di level utama.

Dan yang terakhir si Roy Suryo. Sebagai ahli IT dan tidak punya pengalaman keorganisasian di bidang kepemudaan dan olah raga, ia tiba-tiba ditunjuk sebagai Menpora. Hal yang sangat ganjil dan dipandang sinis oleh masyarakat. Namun, salahkah Roy Suryo?
Tidak!
Yang salah adalah orang yang menunjuk
dia sebagai Menpora. Yaitu si RI 01 kita. Dia telah memilih orang yang tidak becus diposisinya.

Saya ambil contoh diri saya sendiri. Saya
adalah orang yang bodoh dan tidak punya pengalaman di bidang organisai kepemudaan & olahraga, tapi kalo ditunjuk oleh presiden untuk menjadi Menpora, saya tidak akan menolak! 100% tidak! Siapa orang tolol yang mau menolak jabatan hebat seperti Menteri?? Sehingga itu tadi, jangan salahkan Roy Suryo jika dia menerima tawaran si Presiden

Halnya sama dengan kisah Padoin dan
Peluso di atas. Yang seharusnya bertanggung-jawab atas ke”salah-posisian” mereka adalah pelatih Antonio Conte.
Untungnya, pelatih kita secara gentle sudah pasang badan atas kegagalan itu. Sebuah tindakan yg perlu diapresiasi. Dan oleh karena itu, nama Padoin dan Peluso sudah seharusnya dimaafkan. No problem at all!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s