5 Besar Kiper Top di Serie A Musim 2012-2013

image

5. Mattia Perin Jadi bagaimana bisa penjaga gaang tim yang sejauh ini telah kebobolan terbanyak di Serie A (48) berada pada posisi yang sangat menyanjung daftar nya? Baru-baru ini keeper 20 tahun Phenom Mattia Perin telah dibandingkan dengan Buffon Sudah Gigi sebagai kiper Italia yang besar berikutnya. Sudahlah fakta yang terlihat Perin memiliki kecepatan, dan salah satu dari The greatest goalkeeping performances saat saat melawan Fiorentina. Dalam game ini ia mencatat 15 penyelamatan, salah satu yang terbanyak dari kiper manapun di lima liga top Eropa musim ini

4. Stefano Sorrentino 33-tahun Yang telah bermain di mana- mana dari Spanyol ke Yunani dan kembali ke Italia. Stefano Sorrentino kini telah bergabung dengan Palermo di jendela transfer Januari, di mana ia tampak baik untuk memperketat pertahanan timnya yang buruk.

3. Samir Handanovic Mungkin kiper asing terbaik di Italia saat ini.

2. Gianluigi Buffon Membuat daftar tanpa kiper top Gianluigi Buffon Harus Dianggap sebagai sebuah kejanggalan. Pemain internasional Italia,yang oleh pelatih Cesare Prandelli dilabeli predikat untouchable, hampir tak pernah tampil mengecewakan di Juventus. Dia kapten garis pertahanan Juventus yang mengukirkan rekor bersejarah dengan 49 pertandingan tak terkalahkan dalam negeri, dan dikenal sebagai salah satu yang terbaik di posisinya.

1. Federico Marchetti Lazio kiper Federico Marchetti tak kekurangan kelas di dunia musim ini. Federico menunjukan beberapa refleks tercepat di Eropa. Rangkaian pertunjukan yang luar biasa telah menyebabkan pelatih tim nasional Italia Cesare Prandelli memanggil dia dalam match Italia melawan Belanda lalu.

Tiga Alasan Sepakbola Italia Masih Menyimpan Harapan

Saya kerap mengkritik sejumlah aspek sepakbola Italia, menunjuk kepada masalah-masalah utama yang menghambat perkembangannya dalam beberapa tahun terakhir. Tiga permasalahan utama adalah: pemilik klub yang tidak kompeten dan memiliki sindrom megalomaniac; pers yang partisan dan kerap melontarkan lelucon tidak pantas; ditambah pelaku kriminal terorganisir yang membayangi sepakbola Italia, tak peduli apakah mereka hooligan atau pelaku judi ilegal yang memanipulasi pertandingan dan pemain.

Namun, kali ini, saya ingin merayakan kembalinya Mario Balotelli ke Serie A dengan menyambut tiga aspek positif dalam sepakbola Italia saat ini: semakin banyaknya pemain muda, kesuksesan model bisnis Juventus dan kualitas laga secara keseluruhan. Kurangnya modal untuk berinvestasi membeli pemain bintang memaksa klub-klub Serie A menajamkan sisi imajinasi mereka dalam membangun skuat, dan hasilnya adalah peluang pemain muda yang semakin terbuka.

Di Italia, pendukung klub-klub besar memiliki tingkat kesabaran yang tipis, dan pemain muda yang dimainkan secara prematur kerap berujung memojokkan pemain yang bersangkutan – karena itulah muncul tradisi ‘mengirimkan’ pemain ke klub- klub kecil agar mengasah mental mereka. Tren ini berubah drastis, terutama di musim ini, artinya banyak pemain dibawah 21 tahun yang memiliki kesempatan untuk bermain secara reguler, bahkan di klub-klub besar. Contoh paling menonjol sejauh ini adalah: Stephan El Shaarawy, M’Baye Niang, Mattia De Sciglio (semuanya pemain Milan), Lorenzo Insigne (Napoli), Alessandro Florenzi dan Mattia Destro (keduanya di Roma) untuk para pemain Italia. Tapi selain itu masih ada Paul Pogba (Juventus), Juan Jesus (Inter), Stefan Savic (Fiorentina), Mauro Icardi (Sampdoria), Erik Lamela dan Marquinhos (Roma). Milan dan Roma khususnya sepertinya mengambil- kebijakan untuk membina pemain- pemain muda, sesuatu yang tentunya bisa membantu para pemain muda Azzurri berkembang secara cepat guna melakoni tantangan baru skuat Italia besutan Cesare Prandelli.

Kabar baik kedua adalah rencana Juventus untuk memasuki era baru. Stadion pribadi mereka, yang merupakan pusat rencana Andrea Agnelli, selalu penuh terisi; pembukuan mereka terlihat baik, dan tim berhasil memuncaki klasemen setelah lolos ke fase gugur Liga Champions. Sayangnya, menduplikasi apa yang dilakukan Juventus tidak akan mudah, dan birokrasi Italia tidak membantu klub-klub yang ingin melakukan hal tersebut. Akan tetapi, Juve tidak sendirian dalam perkembangan tersebut: keluarga Pozzo, pemilik klub Udinese, contohnya, melakukan bisnis dengan sangat bagus dalam beberapa tahun terakhir sehingga mereka bisa membeli dua klub lain, yaitu klub Championship Watford dan Granada di La Liga. Granada sendiri merupakan klub yang secara mengejutkan membungkam Real Madrid, akhir pekan lalu. Napoli, Lazio dan Fiorentina juga terlihat berada di jalur yang benar, dan klub yang berhasil lolos ke Liga Champions tentunya akan memiliki uang cukup untuk berinvestasi di bursa transfer musim panas.

Terakhir, bagi mereka yang cukup peduli untuk memperhatikan, perhelatan liga Italia masih menyuguhkan laga-laga yang layak dinikmati. Secara teknis, kendati formasi tiga bek kini banyak diterapkan, tim-tim Italia masih melakoni laga dengan gaya berbeda dam memiliki taktik bertahan yang masih terbilang unik di Eropa. Hal itu juga dikarenakan tempo pertandingan yang tidak terlalu ekstrim seperti, contohnya, Liga Primer Inggris. Intinya sangat sederhana: Italia tahu bagaimana cara bermain bola, sesuatu yang telah mereka tegaskan di Euro 2012 dan, contohnya, kesuksesan Juventus akhir-akhir ini serta tereliminasinya jawara Eropa, Chelsea.

Sulit untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan sepakbola Italia, dan analisa menyeluruh situasi saat ini juga tidak menyisakan banyak ruang untuk rasa optimis. Meski demikian, penting untuk diingat bahwa kita membicarakan tentang negara dimana sepakbola nyaris seperti agama, di mana gairah dan cinta untuk sepakbola melahirkan banyaknya pemain maupun fans. Karena itu, sulit untuk tidak membayangkan masa depan yang cerah di ujung kegelapan sepakbola Italia sejak 2006 silam.

Calcio Mercato Juventus January 2012-2013

Federico Peluso dan Nicholas Anelka adalah rekutan baru Juventus pada penutupan Calciomercato bulan Januari . Dan lain transaksi telah diselesaikan, namun fokus pada masa depan: setengah kepemilikan Andrea Poli dari Sampdoria dan Pepic , untuk musim panas mendatang, serta musim panas tiba Fernando Llorente sudah bergabung dengan status bebas transfer.

Pada sore hari itu tersiar kabar
kesepakatan untuk Icardi, tapi klub
membantah. Dan beralih ke opsi lain,
Penyerang Parma Belfodil, namun kedua belah pihak tidak setuju karena
dibandrol sekitar 20 juta, dengan opsi
Quagliarella ditambah uang senilai
sekitar tujuh juta Uero. Sedang untuk
Lisandro Lopez, Presiden Lyon, Aulas,
tidak mau meminjamkan secara gratis.

Dengan demikian Juventus memiliki 7
penyerang selain Iaquinta yang tidak
masuk skema Conte yaitu Vucinic,
Giovinco, Matri, Quagliarella, Anelka dan Bendtner, meskipun yang terakhir
cidera dan akan kembali pada bulan April. Posisi pertahanan ditempati
pendatang baru oleh Peluso, sementara lini tengah tidak ada penambahan pemain baru, menunggu masa penyembuhan Pepe, sedang untuk Isla dan Pogba makin padu dengan team.

Berikut rekutan Resmi Juventus di
Calcio Mercato Januari :
1. Federico Peluso (Bek) dari Atlanta

2. Nicolas Anelka (Penyerang) dari
Shanghai Shenhua

3. José F. Cevallos, Jr (Gelandang/­
Striker) dari LDU Quito

4. Mattheus Oliveira (Gelandang) dari
Flamengo

5. Vajebah Sakor (Gelandang) dari
Rosenborg BK

6. Hasan Pepic (Gelandang) dari Dynamo Dresden

#Mulai Bergabung Musim Depan:
7. Fernando Llorente (Penyerang) dari
Athletico Bilbao

8. Andrea Poli (Gelandang) dari Sampdoria