Pasangan Bomber Menakutkan Serie A

image

Beberapa tahun lalu Liga Italia punya duet-duet bomber yang sangat menakutkan.. Milan punya duet Pippo-Sheva, Inter punya duet Ronaldo-Vieri, dan Juve punya Del Piero-Trezeguet…

Profil:

1) Milan (Pippo-Sheva)
Filipo Inzaghi adalah striker oportunis yang jarang berlari & mendribel, tapi dia punya kelebihan dalam positioning, dia selalu tahu kapan & dimana dia harus berdiri untuk menunggu assist, meskipun ia sering sengaja menjebakkan dirinya dalam posisi off-side. Partnernya, yaitu Andriy Shevchenko, punya speed & naluri mencetak gol yang sangat tinggi. Bersama Milan, ia pernah menjadi Capocanonieri sebanyak 2x.

2) Inter (Vieri-Ronaldo)
Cristian Vieri memiliki keunggulan fisik yang tinggi kekar sehingga memudahkan dia dalam berduel udara, dan sebagai seorang yang bertubuh tinggi-gempal, dia tetap memiliki speed yang bisa diandalkan. Partnernya, ada Ronaldo! Siapa yg meragukan kualitas Ronaldo saat itu??, selain berhasil meraih trofi Ballon d’Or bersama Inter, ia juga membawa timnas Brazil menjuarai PD 2002 dengan dwi-golnya di partai final.

3) Roma (Totti-Batigol)
Francesco Totti adalah pemain versatile yang bisa meladeni Gabriel Batistuta dalam meneror lini belakang lawan. Ia juga memilki kemampuan bola mati di atas rata-rata. Sementara Batistuta, dia pemain bertipe finisher. Ada yang menjuluki Batigol sebagai si Singa dari ibukota, ketika ia memasuki kotak pinalty, maka kemungkinan mangsanya lolos akan sangat kecil. Bersama duet ini, Roma pernah diantar menjuarai Serie A musim 2000-2001.

4) Lazio (Duo Argetina: Crespo-C.Lopez)
Hernan Crespo adalah striker maut yang memiliki ‘work-rate’ yang sangat tinggi, stamina mumpuni yang memungkinkan dia mengarungi lapangan 90 menit full, pemain ini juga memiliki keunggulan di bola-bola atas. Sementara partnernya, Claudio Lopez memilki speed di atas rata-rata. Pernah ada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa Claudio Lopez ini adalah pesepak bola tercepat di Eropa saat itu. Ia juga diduetkan dengan Crespo di timnas Argentina pada PD 2002.

5) Juventus (Del Piero-Trezeguet)
Del Piero adalah penyerang yang sangat komplet, kedua kakinya hidup, bola yang terlihat susah bagi orang.lain mudah dia peragakan. Menurut Marcello Lippi, bakat yang dimiliki Del Piero hanya terlahir di bumi ini sekali dalam 50 tahun. Pemain ini juga memilki keunggulan di bola2 mati, salah 1 eksekutor bola mati terbaik di Eropa. Sementara partnernya David Trezeguet, ia penyerang oportunis, memilki tipe bermain.seperti Filipo Inzaghi, namun dia memiliki 2 keunggulan yang tidak.dimiliki Inzaghi: Duel Bola2 atas & cara meloloskan diri dari jebakan off-side! Trezeguet juga berhasil meraih gelar top-scorer di musim 2001-2002.

Iklan

Inilah Faktor X Kekalahan Juve Atas Galatasaray

image

Inilah Faktor X Kekalahan Juve Atas Galatasaray yg kami kutip dan translate se detail mungkin dari Sumber link di bawah (Skysport ) simak fakta berikut ini: Lihat gambar A:

– Kickoff babak pertama Juve berada di sisi kiri lapangan sedang Galatasaray di sisi kanan. Rumput dan kondisi lapangan yg bagus bikin pertandingan berjalan menarik dan terbuka, Llorente nyaris membobol gawang Muslera andai tendangannya tidak melenceng tipis di tiang kanan. Kondisi berbeda ketika hujan salju mulai turun di menit 30. Wasit menghentikan pertandingan dan menundanya sambil menunggu hujan salju reda. Lihat gambar B:

– Dalam 8 menit, lapangan tertutup salju dan petugas mulai membersihkan ‘sebagian’ sisi lapangan. Dengan sisa 15 menit babak pertama, ada indikasi petugas pembersih salju ingin menguntungkan pemain Gala. Petugas membersihkan area kotak penalti Juve sedang kotak penalti Gala hanya dibersihkan salju diatas garis penaltinya saja. Berharap dengan ‘hanya’ membersihkan daerah penalti Juve pemain Gala bisa menyerang dengan kondisi wilayah yg minim salju. Namun keputusan wasit berkata lain, wasit menunda pertandingan keesokan harinya karena hujan salju tidak kunjung reda. Lihat gambar C

– Keesokan siangnya saat dicek, daerah lapangan Juve dipenuhi ‘cakaran’ traktor, mirip dengan kondisi di sawah dengan mesin bajaknya. Sisi kiri lapangan Juve tampak hancur lebur sedang wilayah lapangan Gala tampak mulus. Hal ini tidak jadi halangan buat wasit untuk melanjutkan pertandingannya. 15 Menit terakhir babak pertama dilanjutkan dengan kondisi Gala yg tak mampu menembus kotak penalti Juve karena memang kondisi lapangan yg hancur. Babak pertama berakhir dengan skor 0-0. Lihat gambar D

– Babak kedua dimulai, Juve dan Gala harus bertukar posisi. Sudah lihatan belum curangnya? belum? ok saya jelaskan. Dibabak kedua ini Juve berada di sisi kiri dengan wilayah serang ke kanan (ke sisi kiri lapangan yang hancur) dan Gala berada di sisi kiri dengan wilayah serang kanan di lapangan yg jauh lebih mulus. Babak kedua ini, meski relatif berimbang namun Gala unggul jumlah peluang, lihat Drogba dengan mudahnya menggiring bola sampai kotak penalti Juve. Beda dengan Tevez, drible-nya yang biasanya berjalan mulus, bola jadi sering memantul liar sehingga Tevez berkali-kali gagal menguasai bola dengan baik. Dan dengan sedikit keberuntungan Gala, Sneijder bisa memanfaatkan satu peluang emasnya menjadi gol. Juve pun gagal mengejar margin gol karena lapangan wilayah serangnya yg buruk dan kemudian Gala menumpuk pemain belakang dan mengandalkan serangan balik.

Kesimpulan:
Gala hanya ‘menderita’ 15 menit (akhir babak pertama) sedang Juve harus menderita di 45 menit terakhir alias babak kedua. Menderita karena mempunyai kondisi wilayah serang yg
buruk. Analisa yg di kutip dari analisa Skysport di ( http://video.sky.it/sport/champions-league/galatasarayjuventus_furbizia_turca/v181436.vid ).