Peforma Juventus Pada 10 Pekan Awal & Juve Pekan 25 Pekan Setelahnya Dalam Sudut Pandang Statistik

image

Penampilan juve dalam 10 pekan awal seri A musim ini sebenarnya tidak terlalu buruk seperti yang dituduhkan sebagian besar pengamat. Bahkan dalam beberapa aspek lebih baik daripada 25 pekan setelahnya. Tapi mengapa juve tersendat di awal musim ?? Tentu banyak faktor, mulai dari hengkangnya 3 pemain pilar, cederanya pemain kunci, lambatnya adaptasi pemain baru, jadwal yg kurang menguntungkan (away vs roma, napoli dan inter), dll. Lalu, apa pula yang menyebabkan juve mampu bangkit setelah terpuruk di 10 pekan awal tersebut? Mungkin banyak diantara kita menjawab karena kembalinya pemain pilar sperti marchisio dan khedira, atau juga karena mulai padunya pemain baru dg pemaain lama, adanya program ritiro yang dijalani selepas kalah dari sassuolo, bisa juga faktor keteladanan pemain senior, juga bisa jadi karena kondusifnya ruang ganti pemain, atau membaiknya performa pogba, dll. Semuanya menurut saya jelas berpengaruh. Namun di sini, saya hanya akan mencoba mengupas dari sudut pandang statistik, apa sebenarnya yang membedakan juve di awal musim (10 pekan awal) dengan juve setelah pekan ke-10, yang dengan itu akan terlihat aspek mana saja yang semakin meningkat dalam 25 laga terakhir juve (mulai pekan ke-11 hingga pekan ke-35).

PENYERANGAN
Di awal musim, skema serangan juve sebenarnya tidak terlalu buruk, bahkan boleh dibilang cukup baik, itu bisa dilihat dari banyaknya peluang yang dihasilkan (18,50 shot per game), namun sayangnya banyak diantaranya yang terbuang sia-sia karena penyelesaian akhir yang buruk (conversion rate hanya 6,67%, artinya juve rata-rata butuh 15 peluang untuk bikin 1 gol). Faktor utama dibalik buruknya finishing juve kala itu tak lain tak bukan adalah rendahnya akurasi tembakan para pemain juve yg ketika itu hanya mencapai 29,6%. Hal ini berbanding lurus dengan produktivitas gol para striker juve dalam periode tersebut, tercatat ktika itu Dybala baru mencetak 4 gol (2 gol diantaranya dicetak dari titik penalti), sementara Mandzukic, Morata, dan Zaza masing-masing hanya bisa mencetak 1 gol.
Kondisi tersebut berbeda 180 derajat setelah laga melawan sassuolo di pekan ke-10, dimana setelah itu juve memang cenderung lebih sedikit menciptakan peluang (14,12 shot per game), namun mampu memaksimalkan peluang yang tidak terlalu banyak tersebut untuk menjadi gol (rata-rata mencetak 2,24 gol per game). Hal itu tak lepas dari meningkatnya akurasi tembakan para pemain juve (40,1%), hal ini tentu berpengaruh juga angka penyelesaian akhir yang semakin meningkat (conversion rate 17,39%, yg brarti juve rata-rata hanya butuh 6 peluang untuk mencetak 1 gol). Peningkatan produktivitas gol juve selama 25 pekan terakhir sebagian besar berkat gelontoran gol-gol dari para striker Juve, yakni : dybala (12 gol), mandzukic (9 gol), morata (6 gol), dan zaza (3 gol). Belum lagi sumbangan gol dari barisan pemain gelandang seperti pogba (7 gol), khedira (4 gol), ataupun cuadrado (4 gol).

PERTAHANAN
Di awal2 musim, pertahanan juve sebenarnya tidak terlalu banyak mendapat ancaman dari lawan (8,10 shot conceded per game), ini bisa jadi sebagai efek positif dari tingginya angka ball possession juve ketika itu yg mencapai 57,74%. Akan tetapi, juve kerap kedodoran dengan serangan balik lawan, hal itu seringkali tercipta ketika juve kehilangan bola (25,9 kali loss possession per game), para pemain juve juga kerap melakukan kesalahan2 individual (0,4 individuals error per game). Saat itu, dari 9 gol lawan ke gawang juve, 3 gol diantaranya adalah akibat kesalahan individual pemain juve sendiri. Selain itu, Juve juga kurang cekatan dalam merebut bola (tackle accuration hanya 63,74%) dan lemah dalam melakukan bloking terhadap tembakan lawan (hanya 1,70 bloks per game). Hal itu diperparah dengan masih kurang sigapnya buffon dan neto di bawah mistar. Hal itu tercermin dari rasio saves buffon dalam 10 pekan pertama hanya berada di angka 63,6%, sebuah angka yang cukup rendah untuk seorang legenda seperti buffon. Bahkan ketika itu, juve sering kebobolan dari shot on target pertama lawan (5 dari 9 gol lawan ke gawang juve ketika itu adalah dari shot on target pertama pemain lawan).
Semua aspek-aspek yang lemah dalam pertahanan juve pelan tapi pasti semakin membaik sejak pekan ke-11. Level konsentrasi para pemain juve semakin meningkat, hal itu bisa dilihat dari angka kehilangan bola yang semakin sedikit, kesalahan-kesalahan individual pemain mampu diminimalisir, angka interception semakin baik, akurasi tackle smakin tinggi, dan angka bloking tembakan per game juga semakin meningkat. Dan satu lagi, performa buffon di bawah mistar terus membaik, terhitung sejak pekan ke-11 hingga pekan ke-25 rasio saves buffon mencapai 86,2%, jauh meningkat daripada saat awal2 musim yg hanya 63,6%. Maka tidak mengherankan jika dalam 25 laga tersebut, gawangnya hanya bobol 9 kali (0,36 gol conceded per game), bahkan sempat mencatat sejarah dengan tidak kebobolan dalam 973 menit, terlama di seri A).

KESIMPULAN
Setidaknya ada 3 aspek yang sangat signifikan mempengaruhi hasil-hasil yang diraih juve selama 25 laga terakhir juve, yakni :
1. Akurasi tembakan dan penyelesaian akhir
2. Rasio penyelamatan kiper
3. Angka kesalahan individu
Ketiga aspek tersebut tersebut mampu diperbaiki juve pada pekan ke-11 hingga pekan ke-35, sehingga mampu memenangkan 24 dari 25 laga yang dimainkan dan mengantarkan juve merengkuh scudetto kelimanya secara beruntun.
________
Berikut saya sajikan data statistik performa Juve pada 10 pekan awal dan Juve pada 25 pekan setelahnya.

Aspek permainan juve yang lebih bagus pada pekan ke-1 hingga pekan ke-10 :
1. Shot on Goal
– Pekan 1-10 = 18,50 shot per game
– Pekan 11-35 = 14,12 shot per game
2. Shot Conceded
– Pekan 1-10 = 8,10 shot conceded per game
– Pekan 11-35 = 9,16 shot conceded per game
3. Ball Possession
– Pekan 1-10 = 57,74%
– Pekan 11-35 = 53,96%
4. Pass Accuration
– Pekan 1-10 = 85,70%
– Pekan 11-35 = 84,04%
5. Cross Accuration
– Pekan 1-10 = 27,75%
– Pekan 11-35 = 22,31%
6. Dribble success
– Pekan 1-10 = 14,70 dribble success per game
– Pekan 11-35 = 14,08 dribble success per game
7. Dribble Accuraton
– Pekan 1-10 = 62,70%
– Pekan 11-35 = 59,61%
8. Aerial Won
– Pekan 1-10 = 59,01%
– Pekan 11-35 = 57,61%

Aspek permainan juve yang lebih bagus (membaik) pada pekan ke-11 hingga pekan ke-35 :
1. Shot on Target
– Pekan 1-10 = 5,30 shots per game
– Pekan 11-35 = 5,68 shots per game
2. Shot Accuration
– Pekan 1-10 = 28,6%
– Pekan 11-35 = 40,1%
3. Conversion rate (finishing)
– Pekan 1-10 = 6,67%
– Pekan 11-35 = 17,39%
4. Goal score
– Pekan 1-10 = 1,10 goals per game
– Pekan 11-35 = 2,24 goals per game
5. Goal conceded
– Pekan 1-10 = 0,90 goals conceded per game
– Pekan 11-35 = 0,36 goals conceded per game
6. Tackle success
– Pekan 1-10 = 14,7 tackle success per game
– Pekan 11-35 = 16,76 tackle success per game
7. Tackle Accuration
– Pekan 1-10 = 63,74%
– Pekan 11-35 = 68,25%
8. Interception
– Pekan 1-10 = 15,70 intercepts per game
– Pekan 11-35 = 16,04 intercepts per game
9. Clearance
– Pekan 1-10 = 16,20 clearances per game
– Pekan 11-35 = 17,64 clearances per game
10. Bloked Shots
– Pekan 1-10 = 1,70 bloks per game
– Pekan 11-35 = 2,32 bloks per game
11. Loss Possession
– Pekan 1-10 = 25,90 loss possesion per game
– Pekan 11-35 = 23,76 loss possesion per game
12. Individual Error
– Pekan 1-10 = 0,40 individual error per game
– Pekan 11-35 = 0,24 individual error per game
13. Saves ratio
– Pekan 1-10 = 60,9%
– Pekan 11-35 = 86,2%

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s