Nostalgia Juventus Era 80

Juventus adalah tim yang memiliki sebuah keistimewaan di hati fans yang tak terbatas, suku, agama, ras dan antar bangsa. Semua menyatu dalam elemen hitam putih si nyonya tua Juventus. Ibarat sebuah pohon, Juventus itu bagikan pohon yang rindang dan berbuah, dimana setiap orang ingin berteduh dan merasakan kesegaran buahnya.

Agnelli Family

image

Memang bukan omong kosong semata dengan gambaran akan kebesaran Juventus ini, mulai dari berbagai sponsor hingga hak siar, semuanya menginginkan Juventus menjadi prioritas. Jadi tak heran kalau Juventus menjadi tim yang memiliki kekuatan finansial terbaik. Juventus memang belum pernah merasakan namanya krisis keuangan, ini karena selain faktor keluarga Agnelli yang memiliki basis kekayaan dari Fiat maupun Ferrari, dan merupakan orang berpengaruh di Italia. Meskipun badai krisis keuangan melanda Italia, namun Juventus tetaplah Juventus yang tegap berdiri dengan tetap bersahaja.

Sejarah dari Juventus memang panjang, jadi tak heran kalau kekuatan sejarah inilah yang membuat Juventus menjadi tim yang sangat disukai oleh fans bola dimana saja, sejarah pula lah yang membentuk pondasi Juventus sehingga bisa berdiri kokoh seperti sekarang inilah. Mungkin ada yang ingin bernostalgia dengan aroma Juventus era 70,80, atau 90an ? Nah kali ini kami sajikan beberpa momen maupun foto para legenda Juventus era tersebut, selamat menikmati, dan semoga anda akan tambah suka dengan Juventus :

Mr. Trap memulai kejayaan Juventus

image

Era Trapattoni benar-benar membuat kekuatan Serie-A porak poranda di tahun 80-an. Juve begitu perkasa di zaman tersebut, dengan empat gelar Seri-A di era tersebut, termasuk mengirim 6 pemainnya untuk ikut andil dalam timnas Italia yang menjuarai Piala Dunia 1982. Paolo Rossi adalah salah satu pemain Juve yang kemudian terpilih menjadi Pemain Terbaik Eropa pada 1982, setelah turnamen Piala Dunia di tahun yang sama.

Michel Platini dengan penghargaan Balon D’Or

image

Setelah era Rossi usai, pemuda bernama Michel Platini kemudian secara mengejutkan berhasil l menjadi Pemain Terbaik Eropa selama tiga tahun berturut-turut yakni, 1983, 1984 dan 1985. Bahkan sampai saat ini belum ada pemain yang bisa menyamai pencapaian dirinya. Juventus merupakan satu-satunya klub yang berhasil mengantarkan para pemainnya menjadi Pemain Terbaik Eropa selama tiga tahun berturut-turut. Juventus juga berhasil merebut scudetto terakhir mereka di era ‘80-an pada musim 1985/86, yang juga ironisnya menjadi tahun terakhir Trappatoni bersama Juventus.

Memasuki akhir ‘80-an, Juventus gagal menunjukkan performa terbaik mereka, dan harus mengakui keunggulan SSC Napoli yang saat itu menjadi pusat perhatian lewat aksi megabintang mereka, Diego Maradona, dan juga kebangkitan dua tim kota Milan, AC Milan dan Inter Milan.

Trio Maut Juventus era 80an

image

Tridente yang sangat ditakuti dan disegani era 80an, dimana tridente tersebut berisikan Paolo Rossi, Platini dan Zbigniew Boniek. Trio yang mampu membuat Juventus sangat ditakuti dibawah asuhan Mr.Trap.

Dino Zoff dan Marco Tardelli

image

Dino Zoff, sosok penuh kharisma di bawah mistar gawang Juventus, mampu membawa Italia Juara dunia serta mampu menjadikan Juventus menjadi tim yang sulit dibobol. Bersama Tardelli sebagai gelandang bertahan, membuat lini tengah Juventus menjadi lebih kuat serta stabil.

Tahukah kamu sosok yang ditanda panah merah ini?

image

Hayo, jika kamu Juventini sejati, pasti kamu akan tahu dengan sosok yang satu ini, orang paling sukses sebagai pemain maupun pelatih. Yap benar, dia adalah Fabio Capello, foto diambil pada tahun 1974.

Gaya Modis Era 80an

image

Dengan gaya modis, andalan Juventus era 80an, kira kira siapa saja, hayo yang merasa Juventini pasti tahu sosok sosok beliau ? Yap benar, Scirea, Antonio Cabrini, Michel Platini, Enzo Berzoat (Pelatih Italia saat itu) dan Marco Tardelli.

Sosok istri yang mendukung Suami

image

Sosok pasangan yang romantis, ini adalah gambar sosok legenda Juventus, Giampiero Boniperti.

Dari zaman ke zaman, Juventus selalu menjadi tonggak timnas Italia. Dari zaman dahulu Juventus selalu menjadi bagian dari timnas Italia, ketika juara dunia 2006 Juventus mewakilkan 5 anggotanya. Era dahulu Juventus juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kesuksesan Italia, simak beberpa foto dibawah ini :

image

Mauro Beluugi, Paolo Rossi dan Roberto Bettega, foto diambil di tahun 1978. Sosok yang mampu membuat Juventus menjadi tim yang ditakuti.

image

Dino Zoff, kiper tangguh di bawah mistar gawang Italia bersama Fabio Capello. Italia selalu menghadirkan aroma Juventus dari tahun ke tahun.

Nah semoga momen momen akan kejayaan Juventus era 80an ini bisa membangkitkan rasa kecintaan kamu terhadap klub yang sudah hampir satu seperempat abad ini. klub dimana pemain Italia selalu menjadi prioritas dan tim dimana kesuksesan akan selalu terbuat. Juventus hebat di masa sekarang berkat jasa jasa para pendahulu yang menorehkan tonggak yang kuat bagi pondasi tim.

sumber

Para Pembelot Yang Sukses Di Juventus & Madrid

Berikut adalah beberapa pemain dan pelatih yang terbilang sukses memperkuat bahkan melatih klub Juventus bahkan Real Madrid.

– Zinedine Zidane

image

Juventus 1996–2001, Real Madrid 2001–2006

Zidane tampil lebih dari 150 laga untuk kedua klub. Dia meraih dua gelar Seri A dan dua kali runner-up Liga Champions 1996/97, dan 1997/98, sebelum mencetak rekor transfer dunia ke Real Madrid dengan nilai 75 juta euro (sekitar Rp1,090 triliun). Zidane membawa Madrid juara Liga Champions 2002 seusai mengalahkan Bayer Leverkusen 2-1. Kini Zidane pelatih Real Madrid.

– Fabio Cannavaro

image

Juventus 2004–2006 dan 2009–2010, Real Madrid 2006–2009

Sempat mendaratkan dua gelar Seri A dalam beberapa tahun di Juventus, namun dua trofi itu dianulir karena La Vecchia Signora tersangkut kasus pengaturan skor (calciopoli). Pada 2006, Cannavaro menyeberang ke Madrid karena Juventus didegradasi ke Seri B. Dia mewarisi no 5 milik Zidane dan memenangi dua trofi La Liga serta Piala Super Spanyol.

– Emerson

image

Juventus 2004–2006, Real Madrid 2006–2007

Keberadaan gelandang Brasil Emerson di Juventus bersamaan dengan Cannavaro, dan dia juga mengikuti jejak Cannavaro ke Madrid, namun hanya bertahan setahun. Emerson meraih trofi La Liga 2006/2007 sebelum hengkang ke AC Milan dan mempersembahkan Piala Super Eropa 2007 dan Piala Dunia Antarklub 2007.

– Michael Laudrup

image

Juventus 1989, Real Madrid 1994–1996

Laudrup diikat Juventus untuk menggantikan Zbigniew Boniek. Laudrup meraih gelar Seri A pada tahun pertamanya di Turin, sebelum dihantam cedera dan kehilangan performa terbaiknya sehingga terpinggirkan. Playmaker asal Denmark itu kemudian bergabung dengan Barcelona di mana dia berkembang di bawah arahan pelatih asal Belanda Johan Cruyff. Laudrup sukses meraih Piala (Liga) Champions 1992 dan empat gelar La Liga beruntun, atau lima kali berturut-turut setelah pindah ke Madrid.

– Luis del Sol

image

Real Madrid 1960–1962, Juventus 1962–1970

Bersama Madrid, gelandang kelahiran Arcos de Jalon, Spanyol, 6 April 1935 itu meraih gelar Piala (Liga) Champions 1959/1960 setelah menang 7-3 atas Eintracht Frankfurt di Hampden Park. Dia juga meraih dua gelar La Liga dan Piala Interkontinental sebelum bergabung dengan Juventus dan meraih gelar Seri A 1966/1967 dan Coppa Italia 1964/1965. Luis del Sol mencetak gol melawan Juventus di replay perempat final Piala Champions pada tahun 1962.

– Alvaro Morata

image

Real Madrid 2008–2014, Juventus 2014–2016

Penyerang asal Spanyol ini merupakan hasil pembinaan pemain muda Real Madrid. Dia mencetak 10 gol dalam 37 pertandingan sebelum bergabung dengan Juventus musim panas 2014 dengan nilai transfer 20 juta euro dan Madrid punya opsi untuk membeli kembali, Morata sudah meraih gelar 2 Scudetto, 1 Coppa Italia dan 2 Super Coppa Italia bersama Juventus.

– Nicolas Anelka

image

Real Madrid 1999–2000, Juventus 2013

Anelka mencatat rekor pembelian Real Madrid saat didatangkan dari Arsenal pada 1999 senilai 22,3 juta pounds. Setelah awal yang menjanjikan untuk berkarier di Madrid, dia gagal saat ditangani mantan manajer Vicente del Bosque dan diskors selama 45 hari karena (diduga) menolak berlatih. Anelka menjadi pemain pinjaman Juventus pada 6 Januari 2013, dari Shanghai Shenhua. Anelka sempat melakoni tiga laga sebagai pengganti di Juventus.

– Robert Jarni

image

Juventus 1994–1995, Real Madrid 1998–1999

Bek kiri asal Kroasia itu memenangkan trofi bersama kedua tim. Setelah dikaitkan dengan Juventus dari Torino, Jarni bukan mejadi pemain inti di Juventus, namun masuk dalam skuat yang merebut dua gelar dalam semusim yakni Seri A dan Coppa Italia 1994/1995. Di Real Madrid, Jarni juga kerap sebagai pemain pengganti, termasuk saat memenangi Piala Interkontinental 1998.

– Fabio Capello

image

Juventus 1970–1976 (pemain) dan 2004–2006 (pelatih), Real Madrid 1996–1997 dan 2006–2007

Capello meraih tiga gelar seri A (1971/72, 1972/73, 1974/75) dalam enam musim sebagai pemain Juventus, dan dua gelar lagi (2004/05 dan 2005/06) di raih saat menjadi pelatih. Namun, dua gelar terakhir dianulir lantaran terkait skandal calciopoli. Setelah itu Capello bergabung dengan Madrid untuk kesempatan kedua. Pertama kali di Madrid, Capello menyumbang gelar La Liga 1996/97, dan di kesemepatan kedua juga meraih gelar La Liga 2006/07.

– Carlo Ancelotti

image

Juventus 1999–2001, Real Madrid 2013–2015

Setelah menggantikan Marcello Lippi, Ancelotti menyumbang Piala Intertoto 1999 untuk Juventus, namun hanya mampu membawa Juventus ke peringkat 2 Seri A di dua musim kontraknya. Setelah dari Juventus, Ancelotti menangani sejumlah klub, antara lain AC Milan, Chelsea, dan Paris Saint-Germain, sebelum bergabung dengan Madrid. Di Madrid, Ancelotti meraih trofi Liga Champions 2013/14, Piala Super Eropa 2014, Piala Dunia Antarklub 2014, dan Copa del Rey 2013/14. Sekarang ia melatih Bayern Muenchen.

Buon Compleanno Claudio “Qaddafi” Gentile

image

Tak bisa dimungkiri Claudio Gentile merupakan sosok legenda yang dimiliki Juventus. Berbagai gelar telah ia raih bersama klub asal Turin tersebut. Saat masih aktif bermain, pria yang berposisi sebagai bek itu sukses menyumbangkan 6 scudetto, 2 Coppa Italia, satu Piala Winners dan mungkin yang paling berkesan ada Piala UEFA tahun 1976 dimana itu adalah pertama kalinya si nyonya tua memenangkan gelar international.

Hari ini, sang legenda merayakan ulang tahunnya yang ke-63. Dalam rangka menyambut hari ulang tahunnya tersebut, saya merangkum perjalanan Gentile selama berkarier sebagai pemain.

Kendati memiliki nama yang kental dengan aroma Italia, Gentile sebenarnya dilahirkan di Tripoli, ibu kota Libya, tahun 1953. Dilahirkan di Libya membuat Gentile dijuluki ‘Qaddafi’ sepanjang karirnya. Terkenal sebagai pemain yang keras, buas dan kasar, begitu juga dengan perjalanan karir Gentile. Pemain yang memiliki tinggi 1.78 m ini mengawali karir di klub serie D bernama Arona pada tahun 1971-1972. Hanya bertahan setahun di sana, Gentile naik tahta dengan bermain bersama Varese di serie B dimusim 1972-1973. Bakatnya langsung tercium Juventus dan tanpa keraguan Juventus pun memboyongnya ke Turin.

Tiga tahun pertama Gentile merupakan proses adaptasi yang cukup sulit untuk pemain sekelasnya. Di bawah asuhan Cestmir Vycpalek dan Carlo Parola, Gentile sebenarnya diboyong ke Juventus untuk menjadi seorang mediano atau defensive midfielder alternative dari legenda Juventus lain, Giuseppe Furino. Gaya bermainnya yang tidak kenal kompromi dan terus mengawal pemain kunci lawan memang pas untuk memutus serangan lawan, layaknya Genaro Gattuso. Namun apa boleh dikata, nasib Gentile memang bukan di sana. Di posisi barunya tersebut Gentile tidak berkembang ditambah saat itu baik Vycpalek maupun Parola tidak berani mengambil risiko untuk menempatkan Gentile di posisi naturalnya, bek tengah, dikarenakan komposisi lini belakang yang sudah kompak dan matang.

Hingga pada akhirnya Giovani Trapattoni datang ke Juventus tahun 1976 dimana il Trap mencium bakat Gentile memang tidak di lini tengah. Bersama Trapattoni, Gentile dikembalikan ke habitat naturalnya namun kali ini bergeser menjadi bek kiri. Kendati di sepak bola modern seorang full back terkenal dengan naluri menyerangnya, tidak pada jaman itu. Bermain di sektor sayap kiri, Gentile lebih berfungsi menyeimbangkan sistem permainan tim dan lebih banyak bertahan ketimbang maju menyerang. Gentile bermain cukup baik di sisi kiri pertahanan sampai pada akhirnya di awal musim 1977-1978 Trapattoni memutuskan untuk mempromosikan pemain belia, Antonio Cabrini, sebagai bek kiri inti. Trapattoni tentu tidak melupakan Gentile begitu saja, sebagai pemain yang naturalnya berkaki kanan, Gentile digeser ke sisi kanan dimana dia bermain sama baiknya bahkan kali ini sering membantu menyerang.
Sampai pada akhirnya di tahun 1980 Claudio Gentile akhirnya diposisikan sebagai bek tengah Juventus. Di sini lah Gentile memperkenalkan kepada dunia siapa dirinya sebenarnya. Kemampuannya dalam man marking ditopang dengan partnernya Gaetano Scirea membuat Juventus kala itu memiliki pertahanan super yang saya yakini Leonel Messi sekalipun tidak akan lewat!

Claudio Gentile terkenal juga dengan ketekunannya dalam mempelajari lawan-lawannya lewat rekaman video. Sering kali dia mempelajari lawan dan pemain kuncinya selama beberapa hari dan memberikan solusi untuk meredupkannya. Gentile akan mengahalalkan segala cara dalam menghentikan lawan, dari menekelnya ketika wasit sedang lengah, mencakarnya ketika membantu pemain lawan berdiri, selalu membayangi pemain kunci lawan bahkan mengintimidasi lawan melalui man markingnya yang super ketat. Bahkan legenda Inggris, Gordon Hill mengatakan, “Gentile akan berdiri di atas kepala neneknya demi merebut bola!”

Tahun 1982 adalah puncak dari karir sepak bolanya. Bersama Gaetano Scirea, Gentile bersama-sama membantu Italia memenangkan Piala Dunia 1982 di Spanyol. Italia kala itu harus melewati lawan-lawan berat selama kompetisi. Setelah fase grup pertama dimana Italia hanya finis sebagai runner up, fase grup kedua mereka harus berhadapan dengan Brazil dan Argentina yang diperkuat Zico dan Diego Maradona, dua pemain dunia yang sedang meroket.

Lawan Italia dipertandingan pertama fase grup kedua adalah Argentina. Di interviewnya Gentile mengatakan dia mempelajari gerak-gerik Maradona selama 3 hari sebelum pertandingan. Alhasil Gentile benar-benar mematikan lenggak-lenggok Maradona saat itu. Yang lebih menarik adalah Gentile sama sekali tidak menerima kartu kuning walaupun mengawal ketat dan mengasari Maradona selama pertandingan.Ironisnya, malah Maradona terkena kartu kuning karena terlalu banyak mengeluh! Mengomentari hal ini, Gentile mengatakan, “Sepak bola memang bukan untuk ballerina.”

Terkesan angkuh, namun apa boleh dikata Gentile selalu membuktikan kata-katanya di lapangan. Sadar Italia harus menang demi melangkah lebih jauh, pelatih Italia saat itu, Enzo Bearzot menginstruksikan Gentile untuk mengawal Zico yang merupakan salah satu pemain terbaik dunia setahun sebelumnya ketika berhadapan dengan Brazil. Tanpa ampun Gentile pun mematikan Zico sampai-sampai merobek baju Zico! Gentile tidak berhenti, di final pun tanpa ampun dia mengawal Pierre Littbarski dan juga memberikan cross yang mengawali gol pertama Italia!

image

Banyak yang mengkritik Gentile, banyak pula yang memujinya. Gentile sendiri hanya membuktikan semuanya di lapangan. Terkenal dengan kekerasannya di lapangan, selama kompetisi Piala Dunia 1982 Gentile pun tidak pernah diusir wasit. Gentile memang tidak sekedar mengandalkan otot, kecerdasannya dalam membaca pola permainan dan pergerakan lawan sangat fantastis. Faktor-faktor ini lah yang membuatnya benar-benar disegani lawan. Seorang legenda Argentina lainnya, Mario Kempes pernah berujar, “Seandainya anda pergi ke toilet, Gentile akan terus mengikuti Anda.”

Lebih dari satu dekade bersama Juventus, Claudio Gentile bermain sebanyak 414 kali. Selama itulah Gentile terkenal dengan kekasarannya di atas lapangan tetapi Gentile adalah legenda, Gentile adalah panutan. Bersama Scirea yang terkenal kalem dan tenang, mereka berdua telah memperkenalkan dunia warna Juventus sesungguhnya. Hitam yang melambangkan kekerasan seorang Claudio Gentile dipadukan dengan putihnya ketenangan dan kelas seorang Gaetano Scirea.