Tradisi Tahunan di Villar Perosa


Selama beberapa waktu terakhir, tanpa diragukan lagi nama ini akan terdengar tidak asing. Namun jika tidak, mungkin kalian akan bertanya-tanya : apa itu “Juventus B” dan apakah yang dimaksud dengan “Villar Perosa” ini?

Villar Perosa adalah sebuah desa kecil yang menjadi bagian dari komune [wilayah administratif] pegunungan Pinerolo [Italian : Comunità Montana del Pinerolese] dan hanya akan menjadi salah satu dari sekian banyaknya dusun kecil yang tidak diketahui, jika pada tahun 1930 Edoardo Agnelli tidak memutuskan untuk membangun kota Sestriere, yang menjadi rumah bagi keluarganya dan, mungkin yang paling berkaitan, sebuah stadion sepakbola disana. Mereka masih memiliki “ Castello” [kastil/istana], perkebunan dan gereja pribadi dimana semua anggota keluarga dibaptis, menikah dan dimakamkan. Ia memindahkan Juventus ke lokasi tersebut selama beberapa saat dan klub terus menggunakannya sebagai lokasi latihan hingga terakhir pada tahun 1980. Bahkan dalam dua dekade berikutnya Bianconeri tetap menggunakan lapangan milik keluarga dan menginap di hotel setempat yang dimiliki oleh keluarga Agnelli tersebut saat kamp pelatihan musim panas. Tuntutan dari sepakbola modern – dilihat dari segi fisik, profesional dan finansial – meminta klub untuk mengeluarkan diri dari kota tersebut, melangkah maju kepada tur di Amerika Serikat, menjalani laga persahabatan yang lebih prestisius dan membangun fasilitas latihan yang lebih baik, yang memungkinkan persiapan lebih menyeluruh dan lebih banyak penggemar yang menghadiri laga pra-musim dari klub.

Namun, untuk tetap menjaga image serta tradisi dari klub terbesar Italia ini, Juventus tetap kembali tiap musim panas untuk melangsungkan laga persahabatan antara Skuad A dan B [biasanya merupakan laga antara tim utama melawan tim cadangan dan beberapa pemain terbaik dari tim sektor remaja]. Di Italia laga ini dikenal sebagai Juve Partita in famiglia [The Family Match].

Selain merujuk pada acara yang diadakan oleh klan Agnelli, nama tersebut juga melibatkan semangat dari dilangsungkannya laga ini : keluarga dari para pemain hampir selalu hadir dan laga ini tidak pernah dirusak oleh demonstrasi dari Ultras, sebaliknya justru diartikan sebagai kerumunan dari para penggemar yang dengan antusias berkumpul untuk memberikan dukungannya kepada para pemain Bianconeri, dimana beberapa diantara mereka dikenal setelah bermain dalam kedua tim [tim utama maupun junior], sebagai sebuah masa transisi.

Ketika Juventus berada di Villar Perosa, mereka selalu menciptakan kemeriahan. Kios-kios di pinggir jalan menjual segala jenis merchandise yang berhubungan dengan Bianconeri, dan menciptakan atmosfir yang unik dan luar biasa. Terutama dengan lapangan yang kecil dan penuh kedekatan, yang menggema dengan jelas seperti saat klub ini bermain di Serie B. Menyaksikan pria seperti Andrea Agnelli duduk di pinggir lapangan layaknya orang tua yang bangga menyaksikan anaknya berlaga di taman local merupakan sebuah pemandangan yang langka dan sangat layak untuk dinikmati.

Villar Perosa memberikan kesenangan ala kota kecil bagi tim besar sepanjang masa.

Sepenggal kisah perjuangan Krasic demi Villar Perosa


Usai menandatangani kontrak yang mengikatnya dengan Bianconeri, Milos Krasic terbang dari Moscow [tempat klub sebelumnya, CSKA Moscow] ke Kedutaan Besar Italia di Belgrade [Serbia] untuk memperoleh berkas-berkas penting dan surat izin masuk ke Negara Italia. Akan tetapi, kantor kedutaan tersebut tutup karena renovasi, dan saat proses birokrasi yang merepotkan tersebut usai malam harinya, Krasic sudah tertinggal pesawat yang akan membawanya kembali ke Turin. Penerbangan berikutnya adalah pada pukul enam sore esok harinya, yang berarti saat itu rekan-rekan satu timnya yang baru sudah meninggalkan Villar Perosa !

Jadi, daripada menunggu di Belgrade, pemain sayap ini mengeluarkan 10.000 Euro dari kantong pribadinya untuk menyewa jet pribadi yang menerbangkannya ke Turin, kemudian menggunakan mobil Ia menuju ke Villar Perosa yang berada 40 km dari kota Turin untuk memastikan agar Ia dapat hadir dalam acara tersebut tepat waktu, dan Ia pun dengan segera memperoleh simpati dari fans dan manajemen. Dedikasi yang ditunjukkan oleh Krasic membuat John Elkann menjulukinya

Another blonde angel [ malaikat pirang lainnya ]

​sebagai julukan yang sebelumnya ditujukan kepada Pavel Nedved untuk menghormati Krasic.

Laga tradisional di Villar Perosa sudah menjadi agenda wajib bagi tifosi yang gemar mengkoleksi pernak-pernik yang berhubungan dengan Juventus. Laga di Villar Perosa selalu berakhir dengan aksi saling rebut atribut Juventus seperti jersey, celana, deker, kaos kaki bahkan sepatu milik pemain. Pemain hanya memakai celdam sudah menjadi pemandangan yang sering terjadi di Villar Perosa.

Petinggi klub, pelatih, Pemain dan tifosi nyaris tanpa sekat ketika mereka berkumpul layaknya sebuah keluarga besar di Villar Perosa.

Nostalgia Juventus Era 80

Juventus adalah tim yang memiliki sebuah keistimewaan di hati fans yang tak terbatas, suku, agama, ras dan antar bangsa. Semua menyatu dalam elemen hitam putih si nyonya tua Juventus. Ibarat sebuah pohon, Juventus itu bagikan pohon yang rindang dan berbuah, dimana setiap orang ingin berteduh dan merasakan kesegaran buahnya.

Agnelli Family

image

Memang bukan omong kosong semata dengan gambaran akan kebesaran Juventus ini, mulai dari berbagai sponsor hingga hak siar, semuanya menginginkan Juventus menjadi prioritas. Jadi tak heran kalau Juventus menjadi tim yang memiliki kekuatan finansial terbaik. Juventus memang belum pernah merasakan namanya krisis keuangan, ini karena selain faktor keluarga Agnelli yang memiliki basis kekayaan dari Fiat maupun Ferrari, dan merupakan orang berpengaruh di Italia. Meskipun badai krisis keuangan melanda Italia, namun Juventus tetaplah Juventus yang tegap berdiri dengan tetap bersahaja.

Sejarah dari Juventus memang panjang, jadi tak heran kalau kekuatan sejarah inilah yang membuat Juventus menjadi tim yang sangat disukai oleh fans bola dimana saja, sejarah pula lah yang membentuk pondasi Juventus sehingga bisa berdiri kokoh seperti sekarang inilah. Mungkin ada yang ingin bernostalgia dengan aroma Juventus era 70,80, atau 90an ? Nah kali ini kami sajikan beberpa momen maupun foto para legenda Juventus era tersebut, selamat menikmati, dan semoga anda akan tambah suka dengan Juventus :

Mr. Trap memulai kejayaan Juventus

image

Era Trapattoni benar-benar membuat kekuatan Serie-A porak poranda di tahun 80-an. Juve begitu perkasa di zaman tersebut, dengan empat gelar Seri-A di era tersebut, termasuk mengirim 6 pemainnya untuk ikut andil dalam timnas Italia yang menjuarai Piala Dunia 1982. Paolo Rossi adalah salah satu pemain Juve yang kemudian terpilih menjadi Pemain Terbaik Eropa pada 1982, setelah turnamen Piala Dunia di tahun yang sama.

Michel Platini dengan penghargaan Balon D’Or

image

Setelah era Rossi usai, pemuda bernama Michel Platini kemudian secara mengejutkan berhasil l menjadi Pemain Terbaik Eropa selama tiga tahun berturut-turut yakni, 1983, 1984 dan 1985. Bahkan sampai saat ini belum ada pemain yang bisa menyamai pencapaian dirinya. Juventus merupakan satu-satunya klub yang berhasil mengantarkan para pemainnya menjadi Pemain Terbaik Eropa selama tiga tahun berturut-turut. Juventus juga berhasil merebut scudetto terakhir mereka di era ‘80-an pada musim 1985/86, yang juga ironisnya menjadi tahun terakhir Trappatoni bersama Juventus.

Memasuki akhir ‘80-an, Juventus gagal menunjukkan performa terbaik mereka, dan harus mengakui keunggulan SSC Napoli yang saat itu menjadi pusat perhatian lewat aksi megabintang mereka, Diego Maradona, dan juga kebangkitan dua tim kota Milan, AC Milan dan Inter Milan.

Trio Maut Juventus era 80an

image

Tridente yang sangat ditakuti dan disegani era 80an, dimana tridente tersebut berisikan Paolo Rossi, Platini dan Zbigniew Boniek. Trio yang mampu membuat Juventus sangat ditakuti dibawah asuhan Mr.Trap.

Dino Zoff dan Marco Tardelli

image

Dino Zoff, sosok penuh kharisma di bawah mistar gawang Juventus, mampu membawa Italia Juara dunia serta mampu menjadikan Juventus menjadi tim yang sulit dibobol. Bersama Tardelli sebagai gelandang bertahan, membuat lini tengah Juventus menjadi lebih kuat serta stabil.

Tahukah kamu sosok yang ditanda panah merah ini?

image

Hayo, jika kamu Juventini sejati, pasti kamu akan tahu dengan sosok yang satu ini, orang paling sukses sebagai pemain maupun pelatih. Yap benar, dia adalah Fabio Capello, foto diambil pada tahun 1974.

Gaya Modis Era 80an

image

Dengan gaya modis, andalan Juventus era 80an, kira kira siapa saja, hayo yang merasa Juventini pasti tahu sosok sosok beliau ? Yap benar, Scirea, Antonio Cabrini, Michel Platini, Enzo Berzoat (Pelatih Italia saat itu) dan Marco Tardelli.

Sosok istri yang mendukung Suami

image

Sosok pasangan yang romantis, ini adalah gambar sosok legenda Juventus, Giampiero Boniperti.

Dari zaman ke zaman, Juventus selalu menjadi tonggak timnas Italia. Dari zaman dahulu Juventus selalu menjadi bagian dari timnas Italia, ketika juara dunia 2006 Juventus mewakilkan 5 anggotanya. Era dahulu Juventus juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kesuksesan Italia, simak beberpa foto dibawah ini :

image

Mauro Beluugi, Paolo Rossi dan Roberto Bettega, foto diambil di tahun 1978. Sosok yang mampu membuat Juventus menjadi tim yang ditakuti.

image

Dino Zoff, kiper tangguh di bawah mistar gawang Italia bersama Fabio Capello. Italia selalu menghadirkan aroma Juventus dari tahun ke tahun.

Nah semoga momen momen akan kejayaan Juventus era 80an ini bisa membangkitkan rasa kecintaan kamu terhadap klub yang sudah hampir satu seperempat abad ini. klub dimana pemain Italia selalu menjadi prioritas dan tim dimana kesuksesan akan selalu terbuat. Juventus hebat di masa sekarang berkat jasa jasa para pendahulu yang menorehkan tonggak yang kuat bagi pondasi tim.

sumber

Para Pembelot Yang Sukses Di Juventus & Madrid

Berikut adalah beberapa pemain dan pelatih yang terbilang sukses memperkuat bahkan melatih klub Juventus bahkan Real Madrid.

– Zinedine Zidane

image

Juventus 1996–2001, Real Madrid 2001–2006

Zidane tampil lebih dari 150 laga untuk kedua klub. Dia meraih dua gelar Seri A dan dua kali runner-up Liga Champions 1996/97, dan 1997/98, sebelum mencetak rekor transfer dunia ke Real Madrid dengan nilai 75 juta euro (sekitar Rp1,090 triliun). Zidane membawa Madrid juara Liga Champions 2002 seusai mengalahkan Bayer Leverkusen 2-1. Kini Zidane pelatih Real Madrid.

– Fabio Cannavaro

image

Juventus 2004–2006 dan 2009–2010, Real Madrid 2006–2009

Sempat mendaratkan dua gelar Seri A dalam beberapa tahun di Juventus, namun dua trofi itu dianulir karena La Vecchia Signora tersangkut kasus pengaturan skor (calciopoli). Pada 2006, Cannavaro menyeberang ke Madrid karena Juventus didegradasi ke Seri B. Dia mewarisi no 5 milik Zidane dan memenangi dua trofi La Liga serta Piala Super Spanyol.

– Emerson

image

Juventus 2004–2006, Real Madrid 2006–2007

Keberadaan gelandang Brasil Emerson di Juventus bersamaan dengan Cannavaro, dan dia juga mengikuti jejak Cannavaro ke Madrid, namun hanya bertahan setahun. Emerson meraih trofi La Liga 2006/2007 sebelum hengkang ke AC Milan dan mempersembahkan Piala Super Eropa 2007 dan Piala Dunia Antarklub 2007.

– Michael Laudrup

image

Juventus 1989, Real Madrid 1994–1996

Laudrup diikat Juventus untuk menggantikan Zbigniew Boniek. Laudrup meraih gelar Seri A pada tahun pertamanya di Turin, sebelum dihantam cedera dan kehilangan performa terbaiknya sehingga terpinggirkan. Playmaker asal Denmark itu kemudian bergabung dengan Barcelona di mana dia berkembang di bawah arahan pelatih asal Belanda Johan Cruyff. Laudrup sukses meraih Piala (Liga) Champions 1992 dan empat gelar La Liga beruntun, atau lima kali berturut-turut setelah pindah ke Madrid.

– Luis del Sol

image

Real Madrid 1960–1962, Juventus 1962–1970

Bersama Madrid, gelandang kelahiran Arcos de Jalon, Spanyol, 6 April 1935 itu meraih gelar Piala (Liga) Champions 1959/1960 setelah menang 7-3 atas Eintracht Frankfurt di Hampden Park. Dia juga meraih dua gelar La Liga dan Piala Interkontinental sebelum bergabung dengan Juventus dan meraih gelar Seri A 1966/1967 dan Coppa Italia 1964/1965. Luis del Sol mencetak gol melawan Juventus di replay perempat final Piala Champions pada tahun 1962.

– Alvaro Morata

image

Real Madrid 2008–2014, Juventus 2014–2016

Penyerang asal Spanyol ini merupakan hasil pembinaan pemain muda Real Madrid. Dia mencetak 10 gol dalam 37 pertandingan sebelum bergabung dengan Juventus musim panas 2014 dengan nilai transfer 20 juta euro dan Madrid punya opsi untuk membeli kembali, Morata sudah meraih gelar 2 Scudetto, 1 Coppa Italia dan 2 Super Coppa Italia bersama Juventus.

– Nicolas Anelka

image

Real Madrid 1999–2000, Juventus 2013

Anelka mencatat rekor pembelian Real Madrid saat didatangkan dari Arsenal pada 1999 senilai 22,3 juta pounds. Setelah awal yang menjanjikan untuk berkarier di Madrid, dia gagal saat ditangani mantan manajer Vicente del Bosque dan diskors selama 45 hari karena (diduga) menolak berlatih. Anelka menjadi pemain pinjaman Juventus pada 6 Januari 2013, dari Shanghai Shenhua. Anelka sempat melakoni tiga laga sebagai pengganti di Juventus.

– Robert Jarni

image

Juventus 1994–1995, Real Madrid 1998–1999

Bek kiri asal Kroasia itu memenangkan trofi bersama kedua tim. Setelah dikaitkan dengan Juventus dari Torino, Jarni bukan mejadi pemain inti di Juventus, namun masuk dalam skuat yang merebut dua gelar dalam semusim yakni Seri A dan Coppa Italia 1994/1995. Di Real Madrid, Jarni juga kerap sebagai pemain pengganti, termasuk saat memenangi Piala Interkontinental 1998.

– Fabio Capello

image

Juventus 1970–1976 (pemain) dan 2004–2006 (pelatih), Real Madrid 1996–1997 dan 2006–2007

Capello meraih tiga gelar seri A (1971/72, 1972/73, 1974/75) dalam enam musim sebagai pemain Juventus, dan dua gelar lagi (2004/05 dan 2005/06) di raih saat menjadi pelatih. Namun, dua gelar terakhir dianulir lantaran terkait skandal calciopoli. Setelah itu Capello bergabung dengan Madrid untuk kesempatan kedua. Pertama kali di Madrid, Capello menyumbang gelar La Liga 1996/97, dan di kesemepatan kedua juga meraih gelar La Liga 2006/07.

– Carlo Ancelotti

image

Juventus 1999–2001, Real Madrid 2013–2015

Setelah menggantikan Marcello Lippi, Ancelotti menyumbang Piala Intertoto 1999 untuk Juventus, namun hanya mampu membawa Juventus ke peringkat 2 Seri A di dua musim kontraknya. Setelah dari Juventus, Ancelotti menangani sejumlah klub, antara lain AC Milan, Chelsea, dan Paris Saint-Germain, sebelum bergabung dengan Madrid. Di Madrid, Ancelotti meraih trofi Liga Champions 2013/14, Piala Super Eropa 2014, Piala Dunia Antarklub 2014, dan Copa del Rey 2013/14. Sekarang ia melatih Bayern Muenchen.

Buon Compleanno Claudio “Qaddafi” Gentile

image

Tak bisa dimungkiri Claudio Gentile merupakan sosok legenda yang dimiliki Juventus. Berbagai gelar telah ia raih bersama klub asal Turin tersebut. Saat masih aktif bermain, pria yang berposisi sebagai bek itu sukses menyumbangkan 6 scudetto, 2 Coppa Italia, satu Piala Winners dan mungkin yang paling berkesan ada Piala UEFA tahun 1976 dimana itu adalah pertama kalinya si nyonya tua memenangkan gelar international.

Hari ini, sang legenda merayakan ulang tahunnya yang ke-63. Dalam rangka menyambut hari ulang tahunnya tersebut, saya merangkum perjalanan Gentile selama berkarier sebagai pemain.

Kendati memiliki nama yang kental dengan aroma Italia, Gentile sebenarnya dilahirkan di Tripoli, ibu kota Libya, tahun 1953. Dilahirkan di Libya membuat Gentile dijuluki ‘Qaddafi’ sepanjang karirnya. Terkenal sebagai pemain yang keras, buas dan kasar, begitu juga dengan perjalanan karir Gentile. Pemain yang memiliki tinggi 1.78 m ini mengawali karir di klub serie D bernama Arona pada tahun 1971-1972. Hanya bertahan setahun di sana, Gentile naik tahta dengan bermain bersama Varese di serie B dimusim 1972-1973. Bakatnya langsung tercium Juventus dan tanpa keraguan Juventus pun memboyongnya ke Turin.

Tiga tahun pertama Gentile merupakan proses adaptasi yang cukup sulit untuk pemain sekelasnya. Di bawah asuhan Cestmir Vycpalek dan Carlo Parola, Gentile sebenarnya diboyong ke Juventus untuk menjadi seorang mediano atau defensive midfielder alternative dari legenda Juventus lain, Giuseppe Furino. Gaya bermainnya yang tidak kenal kompromi dan terus mengawal pemain kunci lawan memang pas untuk memutus serangan lawan, layaknya Genaro Gattuso. Namun apa boleh dikata, nasib Gentile memang bukan di sana. Di posisi barunya tersebut Gentile tidak berkembang ditambah saat itu baik Vycpalek maupun Parola tidak berani mengambil risiko untuk menempatkan Gentile di posisi naturalnya, bek tengah, dikarenakan komposisi lini belakang yang sudah kompak dan matang.

Hingga pada akhirnya Giovani Trapattoni datang ke Juventus tahun 1976 dimana il Trap mencium bakat Gentile memang tidak di lini tengah. Bersama Trapattoni, Gentile dikembalikan ke habitat naturalnya namun kali ini bergeser menjadi bek kiri. Kendati di sepak bola modern seorang full back terkenal dengan naluri menyerangnya, tidak pada jaman itu. Bermain di sektor sayap kiri, Gentile lebih berfungsi menyeimbangkan sistem permainan tim dan lebih banyak bertahan ketimbang maju menyerang. Gentile bermain cukup baik di sisi kiri pertahanan sampai pada akhirnya di awal musim 1977-1978 Trapattoni memutuskan untuk mempromosikan pemain belia, Antonio Cabrini, sebagai bek kiri inti. Trapattoni tentu tidak melupakan Gentile begitu saja, sebagai pemain yang naturalnya berkaki kanan, Gentile digeser ke sisi kanan dimana dia bermain sama baiknya bahkan kali ini sering membantu menyerang.
Sampai pada akhirnya di tahun 1980 Claudio Gentile akhirnya diposisikan sebagai bek tengah Juventus. Di sini lah Gentile memperkenalkan kepada dunia siapa dirinya sebenarnya. Kemampuannya dalam man marking ditopang dengan partnernya Gaetano Scirea membuat Juventus kala itu memiliki pertahanan super yang saya yakini Leonel Messi sekalipun tidak akan lewat!

Claudio Gentile terkenal juga dengan ketekunannya dalam mempelajari lawan-lawannya lewat rekaman video. Sering kali dia mempelajari lawan dan pemain kuncinya selama beberapa hari dan memberikan solusi untuk meredupkannya. Gentile akan mengahalalkan segala cara dalam menghentikan lawan, dari menekelnya ketika wasit sedang lengah, mencakarnya ketika membantu pemain lawan berdiri, selalu membayangi pemain kunci lawan bahkan mengintimidasi lawan melalui man markingnya yang super ketat. Bahkan legenda Inggris, Gordon Hill mengatakan, “Gentile akan berdiri di atas kepala neneknya demi merebut bola!”

Tahun 1982 adalah puncak dari karir sepak bolanya. Bersama Gaetano Scirea, Gentile bersama-sama membantu Italia memenangkan Piala Dunia 1982 di Spanyol. Italia kala itu harus melewati lawan-lawan berat selama kompetisi. Setelah fase grup pertama dimana Italia hanya finis sebagai runner up, fase grup kedua mereka harus berhadapan dengan Brazil dan Argentina yang diperkuat Zico dan Diego Maradona, dua pemain dunia yang sedang meroket.

Lawan Italia dipertandingan pertama fase grup kedua adalah Argentina. Di interviewnya Gentile mengatakan dia mempelajari gerak-gerik Maradona selama 3 hari sebelum pertandingan. Alhasil Gentile benar-benar mematikan lenggak-lenggok Maradona saat itu. Yang lebih menarik adalah Gentile sama sekali tidak menerima kartu kuning walaupun mengawal ketat dan mengasari Maradona selama pertandingan.Ironisnya, malah Maradona terkena kartu kuning karena terlalu banyak mengeluh! Mengomentari hal ini, Gentile mengatakan, “Sepak bola memang bukan untuk ballerina.”

Terkesan angkuh, namun apa boleh dikata Gentile selalu membuktikan kata-katanya di lapangan. Sadar Italia harus menang demi melangkah lebih jauh, pelatih Italia saat itu, Enzo Bearzot menginstruksikan Gentile untuk mengawal Zico yang merupakan salah satu pemain terbaik dunia setahun sebelumnya ketika berhadapan dengan Brazil. Tanpa ampun Gentile pun mematikan Zico sampai-sampai merobek baju Zico! Gentile tidak berhenti, di final pun tanpa ampun dia mengawal Pierre Littbarski dan juga memberikan cross yang mengawali gol pertama Italia!

image

Banyak yang mengkritik Gentile, banyak pula yang memujinya. Gentile sendiri hanya membuktikan semuanya di lapangan. Terkenal dengan kekerasannya di lapangan, selama kompetisi Piala Dunia 1982 Gentile pun tidak pernah diusir wasit. Gentile memang tidak sekedar mengandalkan otot, kecerdasannya dalam membaca pola permainan dan pergerakan lawan sangat fantastis. Faktor-faktor ini lah yang membuatnya benar-benar disegani lawan. Seorang legenda Argentina lainnya, Mario Kempes pernah berujar, “Seandainya anda pergi ke toilet, Gentile akan terus mengikuti Anda.”

Lebih dari satu dekade bersama Juventus, Claudio Gentile bermain sebanyak 414 kali. Selama itulah Gentile terkenal dengan kekasarannya di atas lapangan tetapi Gentile adalah legenda, Gentile adalah panutan. Bersama Scirea yang terkenal kalem dan tenang, mereka berdua telah memperkenalkan dunia warna Juventus sesungguhnya. Hitam yang melambangkan kekerasan seorang Claudio Gentile dipadukan dengan putihnya ketenangan dan kelas seorang Gaetano Scirea.

Peforma Juventus Pada 10 Pekan Awal & Juve Pekan 25 Pekan Setelahnya Dalam Sudut Pandang Statistik

image

Penampilan juve dalam 10 pekan awal seri A musim ini sebenarnya tidak terlalu buruk seperti yang dituduhkan sebagian besar pengamat. Bahkan dalam beberapa aspek lebih baik daripada 25 pekan setelahnya. Tapi mengapa juve tersendat di awal musim ?? Tentu banyak faktor, mulai dari hengkangnya 3 pemain pilar, cederanya pemain kunci, lambatnya adaptasi pemain baru, jadwal yg kurang menguntungkan (away vs roma, napoli dan inter), dll. Lalu, apa pula yang menyebabkan juve mampu bangkit setelah terpuruk di 10 pekan awal tersebut? Mungkin banyak diantara kita menjawab karena kembalinya pemain pilar sperti marchisio dan khedira, atau juga karena mulai padunya pemain baru dg pemaain lama, adanya program ritiro yang dijalani selepas kalah dari sassuolo, bisa juga faktor keteladanan pemain senior, juga bisa jadi karena kondusifnya ruang ganti pemain, atau membaiknya performa pogba, dll. Semuanya menurut saya jelas berpengaruh. Namun di sini, saya hanya akan mencoba mengupas dari sudut pandang statistik, apa sebenarnya yang membedakan juve di awal musim (10 pekan awal) dengan juve setelah pekan ke-10, yang dengan itu akan terlihat aspek mana saja yang semakin meningkat dalam 25 laga terakhir juve (mulai pekan ke-11 hingga pekan ke-35).

PENYERANGAN
Di awal musim, skema serangan juve sebenarnya tidak terlalu buruk, bahkan boleh dibilang cukup baik, itu bisa dilihat dari banyaknya peluang yang dihasilkan (18,50 shot per game), namun sayangnya banyak diantaranya yang terbuang sia-sia karena penyelesaian akhir yang buruk (conversion rate hanya 6,67%, artinya juve rata-rata butuh 15 peluang untuk bikin 1 gol). Faktor utama dibalik buruknya finishing juve kala itu tak lain tak bukan adalah rendahnya akurasi tembakan para pemain juve yg ketika itu hanya mencapai 29,6%. Hal ini berbanding lurus dengan produktivitas gol para striker juve dalam periode tersebut, tercatat ktika itu Dybala baru mencetak 4 gol (2 gol diantaranya dicetak dari titik penalti), sementara Mandzukic, Morata, dan Zaza masing-masing hanya bisa mencetak 1 gol.
Kondisi tersebut berbeda 180 derajat setelah laga melawan sassuolo di pekan ke-10, dimana setelah itu juve memang cenderung lebih sedikit menciptakan peluang (14,12 shot per game), namun mampu memaksimalkan peluang yang tidak terlalu banyak tersebut untuk menjadi gol (rata-rata mencetak 2,24 gol per game). Hal itu tak lepas dari meningkatnya akurasi tembakan para pemain juve (40,1%), hal ini tentu berpengaruh juga angka penyelesaian akhir yang semakin meningkat (conversion rate 17,39%, yg brarti juve rata-rata hanya butuh 6 peluang untuk mencetak 1 gol). Peningkatan produktivitas gol juve selama 25 pekan terakhir sebagian besar berkat gelontoran gol-gol dari para striker Juve, yakni : dybala (12 gol), mandzukic (9 gol), morata (6 gol), dan zaza (3 gol). Belum lagi sumbangan gol dari barisan pemain gelandang seperti pogba (7 gol), khedira (4 gol), ataupun cuadrado (4 gol).

PERTAHANAN
Di awal2 musim, pertahanan juve sebenarnya tidak terlalu banyak mendapat ancaman dari lawan (8,10 shot conceded per game), ini bisa jadi sebagai efek positif dari tingginya angka ball possession juve ketika itu yg mencapai 57,74%. Akan tetapi, juve kerap kedodoran dengan serangan balik lawan, hal itu seringkali tercipta ketika juve kehilangan bola (25,9 kali loss possession per game), para pemain juve juga kerap melakukan kesalahan2 individual (0,4 individuals error per game). Saat itu, dari 9 gol lawan ke gawang juve, 3 gol diantaranya adalah akibat kesalahan individual pemain juve sendiri. Selain itu, Juve juga kurang cekatan dalam merebut bola (tackle accuration hanya 63,74%) dan lemah dalam melakukan bloking terhadap tembakan lawan (hanya 1,70 bloks per game). Hal itu diperparah dengan masih kurang sigapnya buffon dan neto di bawah mistar. Hal itu tercermin dari rasio saves buffon dalam 10 pekan pertama hanya berada di angka 63,6%, sebuah angka yang cukup rendah untuk seorang legenda seperti buffon. Bahkan ketika itu, juve sering kebobolan dari shot on target pertama lawan (5 dari 9 gol lawan ke gawang juve ketika itu adalah dari shot on target pertama pemain lawan).
Semua aspek-aspek yang lemah dalam pertahanan juve pelan tapi pasti semakin membaik sejak pekan ke-11. Level konsentrasi para pemain juve semakin meningkat, hal itu bisa dilihat dari angka kehilangan bola yang semakin sedikit, kesalahan-kesalahan individual pemain mampu diminimalisir, angka interception semakin baik, akurasi tackle smakin tinggi, dan angka bloking tembakan per game juga semakin meningkat. Dan satu lagi, performa buffon di bawah mistar terus membaik, terhitung sejak pekan ke-11 hingga pekan ke-25 rasio saves buffon mencapai 86,2%, jauh meningkat daripada saat awal2 musim yg hanya 63,6%. Maka tidak mengherankan jika dalam 25 laga tersebut, gawangnya hanya bobol 9 kali (0,36 gol conceded per game), bahkan sempat mencatat sejarah dengan tidak kebobolan dalam 973 menit, terlama di seri A).

KESIMPULAN
Setidaknya ada 3 aspek yang sangat signifikan mempengaruhi hasil-hasil yang diraih juve selama 25 laga terakhir juve, yakni :
1. Akurasi tembakan dan penyelesaian akhir
2. Rasio penyelamatan kiper
3. Angka kesalahan individu
Ketiga aspek tersebut tersebut mampu diperbaiki juve pada pekan ke-11 hingga pekan ke-35, sehingga mampu memenangkan 24 dari 25 laga yang dimainkan dan mengantarkan juve merengkuh scudetto kelimanya secara beruntun.
________
Berikut saya sajikan data statistik performa Juve pada 10 pekan awal dan Juve pada 25 pekan setelahnya.

Aspek permainan juve yang lebih bagus pada pekan ke-1 hingga pekan ke-10 :
1. Shot on Goal
– Pekan 1-10 = 18,50 shot per game
– Pekan 11-35 = 14,12 shot per game
2. Shot Conceded
– Pekan 1-10 = 8,10 shot conceded per game
– Pekan 11-35 = 9,16 shot conceded per game
3. Ball Possession
– Pekan 1-10 = 57,74%
– Pekan 11-35 = 53,96%
4. Pass Accuration
– Pekan 1-10 = 85,70%
– Pekan 11-35 = 84,04%
5. Cross Accuration
– Pekan 1-10 = 27,75%
– Pekan 11-35 = 22,31%
6. Dribble success
– Pekan 1-10 = 14,70 dribble success per game
– Pekan 11-35 = 14,08 dribble success per game
7. Dribble Accuraton
– Pekan 1-10 = 62,70%
– Pekan 11-35 = 59,61%
8. Aerial Won
– Pekan 1-10 = 59,01%
– Pekan 11-35 = 57,61%

Aspek permainan juve yang lebih bagus (membaik) pada pekan ke-11 hingga pekan ke-35 :
1. Shot on Target
– Pekan 1-10 = 5,30 shots per game
– Pekan 11-35 = 5,68 shots per game
2. Shot Accuration
– Pekan 1-10 = 28,6%
– Pekan 11-35 = 40,1%
3. Conversion rate (finishing)
– Pekan 1-10 = 6,67%
– Pekan 11-35 = 17,39%
4. Goal score
– Pekan 1-10 = 1,10 goals per game
– Pekan 11-35 = 2,24 goals per game
5. Goal conceded
– Pekan 1-10 = 0,90 goals conceded per game
– Pekan 11-35 = 0,36 goals conceded per game
6. Tackle success
– Pekan 1-10 = 14,7 tackle success per game
– Pekan 11-35 = 16,76 tackle success per game
7. Tackle Accuration
– Pekan 1-10 = 63,74%
– Pekan 11-35 = 68,25%
8. Interception
– Pekan 1-10 = 15,70 intercepts per game
– Pekan 11-35 = 16,04 intercepts per game
9. Clearance
– Pekan 1-10 = 16,20 clearances per game
– Pekan 11-35 = 17,64 clearances per game
10. Bloked Shots
– Pekan 1-10 = 1,70 bloks per game
– Pekan 11-35 = 2,32 bloks per game
11. Loss Possession
– Pekan 1-10 = 25,90 loss possesion per game
– Pekan 11-35 = 23,76 loss possesion per game
12. Individual Error
– Pekan 1-10 = 0,40 individual error per game
– Pekan 11-35 = 0,24 individual error per game
13. Saves ratio
– Pekan 1-10 = 60,9%
– Pekan 11-35 = 86,2%

Rahasia Dibalik Energi Batu Akik King Marantale Parigi Moutong

( Dibalik Rahasia Batu Akik Yang Pernah Didemonstrasikan Oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia Yang Pernah Dimuat Oleh Tribun News Pada hari Minggu, 3 Mei 2015 ) Rahasia dibalik kekuatan energi batu Akik King Marantale Parigi Moutong Sulawesi Tengah. Pada hari Jum’at, 26 Juni 2015 Pukul 13.00 WITA ba’da Shalat Jum’at. Masyarakat Marantale membelah bongkahan batu Akik King Marantale, setelah terbelah bongkahan batu Akik tersebut masyarakat menjerit bahkan ada yang menangis sambil berteriak Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Dalam batu Akik tersebut terdapat gambar Ka’bah seperti digambar. Bupati Samsurizal Tombolotutu mendengar berita tersebut langsung menuju lokasi dan membawa batu Akik King Marantale ke Rumah Jabatan Bupati di Kota Parigi. Dengan temuan ini Bupati Parigi Moutong Samsurizal Tombolotutu berdo’a dan berharap agar masyarakat Parigi Moutong menjadikan semakin kuat keiman-Nya kepada Allah SWT serta mendapat ridho dan membawa kesejahteraan. Bagi khususnya masyarakat Parigi Moutong dan umumnya Sulawesi Tengah, semoga Pemerintah dan masyarakat Parigi Moutong mendapat Ridho dari Allah SWT untuk dapat mensukseskan Acara Sail Tomini pada tanggal 19 September 2015. – at Mesjid Darussalam Parigi

View on Path

Gara – Gara Batu, Menteri Mengangkat Bupati Parigi Moutong

image

PARIGI- Akik atau batu cincin merupakan salah satu tren yang saat ini kian merebak di masyarakat Indonesia. Bahkan seakan tak mengenal usia, batu-batu indah ini pun banyak terlihat melekat di jari hampir semua kalangan tanpa mengenal usia, baik mereka yang telah berumur, anak muda bahkan hingga wanita pun kini turut pula menggunakan batu akik sebagai sarana untuk menambah cantik penampilan.

Batu akik memang penuh pesona, bahkan keindahannya dapat memikat siapa saja yang melihatnya. Namun terlepas dari nilai estetika dan keindahan yang dimilikinya, sebagian orang mempercayai jika ada khasiat batu akik serta berbagai manfaat bagi siapa pun pemakainya. Ada orang yang percaya jika menggunakan batu akik tertentu, maka ia akan merasakan sebuah energi yang positif. Terlepas dari mitos ataukah hanya sebuah sugesti, alangkah bijaksana apabila kesukaan kecintaan terhadap batu akik sedianya dilandasi atas nilai estetikanya saja tanpa menghubung-hubungkannya dengan fungsi magis atau spiritual yang dapat merusak nilai-nilai keimanan seseorang, kini muncul batu yang mendongkrak kekuatan fisik. Batu itu ialah batu marantale asal Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Kabupaten ini terletak di pesisir Teluk Tomini dan berjarak sekitar 100 km dari Kota Palu ke arah timur atau 2,5 jam perjalanan darat yang melewati punggung pegunungan Sulawesi. Ajaibnya batu itu bukan sekadar mitos yang tanpa pembuktian. Tak tanggung-tanggung, salah satu menteri Kabinet Kerja, Menteri Perindustrian Saleh Husin mengalaminya sendiri.

Awalnya, Bupati Parigi Moutong Samsurizal Tombolotutu bertutur tentang batu marantale saat menyambut Menperin di rumah dinas Bupati, Minggu malam (3/5/2015). Karena penasaran, segera digelar pembuktian. Skenarionya, empat orang termasuk Menperin Saleh Husin termasuk Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulteng, Abu Bakar Ahmadali mencoba mengangkat Bupati Samsulrizal yang duduk di kursi. Pertama, mereka mengangkat dengan kedua jari telunjuk yang ditangkupkan, alias bukan dengan mememegang menggunakan kedua tangan. Tentu saja, keempatnya gagal.

Ini untuk membuktikan bahwa awalnya tidak bisa mengangkat. Ujar Bupati Parigi Moutong

image

Selanjutnya, langkah kedua, keempatnya membasuh tangan masing-masing dengan air yang merupakan rendaman batu marantale. Lama rendaman tidak lama, hanya 3-5 menit. Setelah mengambil posisi persis langkah pertama, keempatnya siap mencoba lagi. Hopppp…. sang bupati pun terangkat hingga lebih tinggi dari kursi. Saleh Husin yang asal pulau Rote, Nusa Tenggara Timur pun ternganga saking takjub. Menurut Saleh Husin, kisah batu marantale Parigi ini menambah khasanah perbatuan Tanah Air.

“Di luar soal hal-hal yang di luar nalar, fenomena ini menambah daya tarik batu-batu akik di Indonesia” Ujarnya

Dia berharap, ke depan, masyarakat makin meminati dan bangga pada batu akik asli Indonesia. Demikian juga, para perajin terus meningkatkan kualitas batu untuk meningkatkan nilai tambah. Samsurizal menuturkan, keunikan batu marantale ini baru mengemuka sekitar satu bulan belakangan ini. Batu ini banyak ditemukan di desa Marantale dan Uwefolu, Kecamatan Siniu. Harga batu mentah sebelum diolah terbilang terjangkau, sebongkah batu marantale sebesar kepalan tangan ditawarkan hanya Rp 50-100 ribu.

Dengan sedikit perubahan oleh penulis

image