Nostalgia Juventus Era 80

Juventus adalah tim yang memiliki sebuah keistimewaan di hati fans yang tak terbatas, suku, agama, ras dan antar bangsa. Semua menyatu dalam elemen hitam putih si nyonya tua Juventus. Ibarat sebuah pohon, Juventus itu bagikan pohon yang rindang dan berbuah, dimana setiap orang ingin berteduh dan merasakan kesegaran buahnya.

Agnelli Family

image

Memang bukan omong kosong semata dengan gambaran akan kebesaran Juventus ini, mulai dari berbagai sponsor hingga hak siar, semuanya menginginkan Juventus menjadi prioritas. Jadi tak heran kalau Juventus menjadi tim yang memiliki kekuatan finansial terbaik. Juventus memang belum pernah merasakan namanya krisis keuangan, ini karena selain faktor keluarga Agnelli yang memiliki basis kekayaan dari Fiat maupun Ferrari, dan merupakan orang berpengaruh di Italia. Meskipun badai krisis keuangan melanda Italia, namun Juventus tetaplah Juventus yang tegap berdiri dengan tetap bersahaja.

Sejarah dari Juventus memang panjang, jadi tak heran kalau kekuatan sejarah inilah yang membuat Juventus menjadi tim yang sangat disukai oleh fans bola dimana saja, sejarah pula lah yang membentuk pondasi Juventus sehingga bisa berdiri kokoh seperti sekarang inilah. Mungkin ada yang ingin bernostalgia dengan aroma Juventus era 70,80, atau 90an ? Nah kali ini kami sajikan beberpa momen maupun foto para legenda Juventus era tersebut, selamat menikmati, dan semoga anda akan tambah suka dengan Juventus :

Mr. Trap memulai kejayaan Juventus

image

Era Trapattoni benar-benar membuat kekuatan Serie-A porak poranda di tahun 80-an. Juve begitu perkasa di zaman tersebut, dengan empat gelar Seri-A di era tersebut, termasuk mengirim 6 pemainnya untuk ikut andil dalam timnas Italia yang menjuarai Piala Dunia 1982. Paolo Rossi adalah salah satu pemain Juve yang kemudian terpilih menjadi Pemain Terbaik Eropa pada 1982, setelah turnamen Piala Dunia di tahun yang sama.

Michel Platini dengan penghargaan Balon D’Or

image

Setelah era Rossi usai, pemuda bernama Michel Platini kemudian secara mengejutkan berhasil l menjadi Pemain Terbaik Eropa selama tiga tahun berturut-turut yakni, 1983, 1984 dan 1985. Bahkan sampai saat ini belum ada pemain yang bisa menyamai pencapaian dirinya. Juventus merupakan satu-satunya klub yang berhasil mengantarkan para pemainnya menjadi Pemain Terbaik Eropa selama tiga tahun berturut-turut. Juventus juga berhasil merebut scudetto terakhir mereka di era ‘80-an pada musim 1985/86, yang juga ironisnya menjadi tahun terakhir Trappatoni bersama Juventus.

Memasuki akhir ‘80-an, Juventus gagal menunjukkan performa terbaik mereka, dan harus mengakui keunggulan SSC Napoli yang saat itu menjadi pusat perhatian lewat aksi megabintang mereka, Diego Maradona, dan juga kebangkitan dua tim kota Milan, AC Milan dan Inter Milan.

Trio Maut Juventus era 80an

image

Tridente yang sangat ditakuti dan disegani era 80an, dimana tridente tersebut berisikan Paolo Rossi, Platini dan Zbigniew Boniek. Trio yang mampu membuat Juventus sangat ditakuti dibawah asuhan Mr.Trap.

Dino Zoff dan Marco Tardelli

image

Dino Zoff, sosok penuh kharisma di bawah mistar gawang Juventus, mampu membawa Italia Juara dunia serta mampu menjadikan Juventus menjadi tim yang sulit dibobol. Bersama Tardelli sebagai gelandang bertahan, membuat lini tengah Juventus menjadi lebih kuat serta stabil.

Tahukah kamu sosok yang ditanda panah merah ini?

image

Hayo, jika kamu Juventini sejati, pasti kamu akan tahu dengan sosok yang satu ini, orang paling sukses sebagai pemain maupun pelatih. Yap benar, dia adalah Fabio Capello, foto diambil pada tahun 1974.

Gaya Modis Era 80an

image

Dengan gaya modis, andalan Juventus era 80an, kira kira siapa saja, hayo yang merasa Juventini pasti tahu sosok sosok beliau ? Yap benar, Scirea, Antonio Cabrini, Michel Platini, Enzo Berzoat (Pelatih Italia saat itu) dan Marco Tardelli.

Sosok istri yang mendukung Suami

image

Sosok pasangan yang romantis, ini adalah gambar sosok legenda Juventus, Giampiero Boniperti.

Dari zaman ke zaman, Juventus selalu menjadi tonggak timnas Italia. Dari zaman dahulu Juventus selalu menjadi bagian dari timnas Italia, ketika juara dunia 2006 Juventus mewakilkan 5 anggotanya. Era dahulu Juventus juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kesuksesan Italia, simak beberpa foto dibawah ini :

image

Mauro Beluugi, Paolo Rossi dan Roberto Bettega, foto diambil di tahun 1978. Sosok yang mampu membuat Juventus menjadi tim yang ditakuti.

image

Dino Zoff, kiper tangguh di bawah mistar gawang Italia bersama Fabio Capello. Italia selalu menghadirkan aroma Juventus dari tahun ke tahun.

Nah semoga momen momen akan kejayaan Juventus era 80an ini bisa membangkitkan rasa kecintaan kamu terhadap klub yang sudah hampir satu seperempat abad ini. klub dimana pemain Italia selalu menjadi prioritas dan tim dimana kesuksesan akan selalu terbuat. Juventus hebat di masa sekarang berkat jasa jasa para pendahulu yang menorehkan tonggak yang kuat bagi pondasi tim.

sumber

Para Pembelot Yang Sukses Di Juventus & Madrid

Berikut adalah beberapa pemain dan pelatih yang terbilang sukses memperkuat bahkan melatih klub Juventus bahkan Real Madrid.

– Zinedine Zidane

image

Juventus 1996–2001, Real Madrid 2001–2006

Zidane tampil lebih dari 150 laga untuk kedua klub. Dia meraih dua gelar Seri A dan dua kali runner-up Liga Champions 1996/97, dan 1997/98, sebelum mencetak rekor transfer dunia ke Real Madrid dengan nilai 75 juta euro (sekitar Rp1,090 triliun). Zidane membawa Madrid juara Liga Champions 2002 seusai mengalahkan Bayer Leverkusen 2-1. Kini Zidane pelatih Real Madrid.

– Fabio Cannavaro

image

Juventus 2004–2006 dan 2009–2010, Real Madrid 2006–2009

Sempat mendaratkan dua gelar Seri A dalam beberapa tahun di Juventus, namun dua trofi itu dianulir karena La Vecchia Signora tersangkut kasus pengaturan skor (calciopoli). Pada 2006, Cannavaro menyeberang ke Madrid karena Juventus didegradasi ke Seri B. Dia mewarisi no 5 milik Zidane dan memenangi dua trofi La Liga serta Piala Super Spanyol.

– Emerson

image

Juventus 2004–2006, Real Madrid 2006–2007

Keberadaan gelandang Brasil Emerson di Juventus bersamaan dengan Cannavaro, dan dia juga mengikuti jejak Cannavaro ke Madrid, namun hanya bertahan setahun. Emerson meraih trofi La Liga 2006/2007 sebelum hengkang ke AC Milan dan mempersembahkan Piala Super Eropa 2007 dan Piala Dunia Antarklub 2007.

– Michael Laudrup

image

Juventus 1989, Real Madrid 1994–1996

Laudrup diikat Juventus untuk menggantikan Zbigniew Boniek. Laudrup meraih gelar Seri A pada tahun pertamanya di Turin, sebelum dihantam cedera dan kehilangan performa terbaiknya sehingga terpinggirkan. Playmaker asal Denmark itu kemudian bergabung dengan Barcelona di mana dia berkembang di bawah arahan pelatih asal Belanda Johan Cruyff. Laudrup sukses meraih Piala (Liga) Champions 1992 dan empat gelar La Liga beruntun, atau lima kali berturut-turut setelah pindah ke Madrid.

– Luis del Sol

image

Real Madrid 1960–1962, Juventus 1962–1970

Bersama Madrid, gelandang kelahiran Arcos de Jalon, Spanyol, 6 April 1935 itu meraih gelar Piala (Liga) Champions 1959/1960 setelah menang 7-3 atas Eintracht Frankfurt di Hampden Park. Dia juga meraih dua gelar La Liga dan Piala Interkontinental sebelum bergabung dengan Juventus dan meraih gelar Seri A 1966/1967 dan Coppa Italia 1964/1965. Luis del Sol mencetak gol melawan Juventus di replay perempat final Piala Champions pada tahun 1962.

– Alvaro Morata

image

Real Madrid 2008–2014, Juventus 2014–2016

Penyerang asal Spanyol ini merupakan hasil pembinaan pemain muda Real Madrid. Dia mencetak 10 gol dalam 37 pertandingan sebelum bergabung dengan Juventus musim panas 2014 dengan nilai transfer 20 juta euro dan Madrid punya opsi untuk membeli kembali, Morata sudah meraih gelar 2 Scudetto, 1 Coppa Italia dan 2 Super Coppa Italia bersama Juventus.

– Nicolas Anelka

image

Real Madrid 1999–2000, Juventus 2013

Anelka mencatat rekor pembelian Real Madrid saat didatangkan dari Arsenal pada 1999 senilai 22,3 juta pounds. Setelah awal yang menjanjikan untuk berkarier di Madrid, dia gagal saat ditangani mantan manajer Vicente del Bosque dan diskors selama 45 hari karena (diduga) menolak berlatih. Anelka menjadi pemain pinjaman Juventus pada 6 Januari 2013, dari Shanghai Shenhua. Anelka sempat melakoni tiga laga sebagai pengganti di Juventus.

– Robert Jarni

image

Juventus 1994–1995, Real Madrid 1998–1999

Bek kiri asal Kroasia itu memenangkan trofi bersama kedua tim. Setelah dikaitkan dengan Juventus dari Torino, Jarni bukan mejadi pemain inti di Juventus, namun masuk dalam skuat yang merebut dua gelar dalam semusim yakni Seri A dan Coppa Italia 1994/1995. Di Real Madrid, Jarni juga kerap sebagai pemain pengganti, termasuk saat memenangi Piala Interkontinental 1998.

– Fabio Capello

image

Juventus 1970–1976 (pemain) dan 2004–2006 (pelatih), Real Madrid 1996–1997 dan 2006–2007

Capello meraih tiga gelar seri A (1971/72, 1972/73, 1974/75) dalam enam musim sebagai pemain Juventus, dan dua gelar lagi (2004/05 dan 2005/06) di raih saat menjadi pelatih. Namun, dua gelar terakhir dianulir lantaran terkait skandal calciopoli. Setelah itu Capello bergabung dengan Madrid untuk kesempatan kedua. Pertama kali di Madrid, Capello menyumbang gelar La Liga 1996/97, dan di kesemepatan kedua juga meraih gelar La Liga 2006/07.

– Carlo Ancelotti

image

Juventus 1999–2001, Real Madrid 2013–2015

Setelah menggantikan Marcello Lippi, Ancelotti menyumbang Piala Intertoto 1999 untuk Juventus, namun hanya mampu membawa Juventus ke peringkat 2 Seri A di dua musim kontraknya. Setelah dari Juventus, Ancelotti menangani sejumlah klub, antara lain AC Milan, Chelsea, dan Paris Saint-Germain, sebelum bergabung dengan Madrid. Di Madrid, Ancelotti meraih trofi Liga Champions 2013/14, Piala Super Eropa 2014, Piala Dunia Antarklub 2014, dan Copa del Rey 2013/14. Sekarang ia melatih Bayern Muenchen.

Buon Compleanno Claudio “Qaddafi” Gentile

image

Tak bisa dimungkiri Claudio Gentile merupakan sosok legenda yang dimiliki Juventus. Berbagai gelar telah ia raih bersama klub asal Turin tersebut. Saat masih aktif bermain, pria yang berposisi sebagai bek itu sukses menyumbangkan 6 scudetto, 2 Coppa Italia, satu Piala Winners dan mungkin yang paling berkesan ada Piala UEFA tahun 1976 dimana itu adalah pertama kalinya si nyonya tua memenangkan gelar international.

Hari ini, sang legenda merayakan ulang tahunnya yang ke-63. Dalam rangka menyambut hari ulang tahunnya tersebut, saya merangkum perjalanan Gentile selama berkarier sebagai pemain.

Kendati memiliki nama yang kental dengan aroma Italia, Gentile sebenarnya dilahirkan di Tripoli, ibu kota Libya, tahun 1953. Dilahirkan di Libya membuat Gentile dijuluki ‘Qaddafi’ sepanjang karirnya. Terkenal sebagai pemain yang keras, buas dan kasar, begitu juga dengan perjalanan karir Gentile. Pemain yang memiliki tinggi 1.78 m ini mengawali karir di klub serie D bernama Arona pada tahun 1971-1972. Hanya bertahan setahun di sana, Gentile naik tahta dengan bermain bersama Varese di serie B dimusim 1972-1973. Bakatnya langsung tercium Juventus dan tanpa keraguan Juventus pun memboyongnya ke Turin.

Tiga tahun pertama Gentile merupakan proses adaptasi yang cukup sulit untuk pemain sekelasnya. Di bawah asuhan Cestmir Vycpalek dan Carlo Parola, Gentile sebenarnya diboyong ke Juventus untuk menjadi seorang mediano atau defensive midfielder alternative dari legenda Juventus lain, Giuseppe Furino. Gaya bermainnya yang tidak kenal kompromi dan terus mengawal pemain kunci lawan memang pas untuk memutus serangan lawan, layaknya Genaro Gattuso. Namun apa boleh dikata, nasib Gentile memang bukan di sana. Di posisi barunya tersebut Gentile tidak berkembang ditambah saat itu baik Vycpalek maupun Parola tidak berani mengambil risiko untuk menempatkan Gentile di posisi naturalnya, bek tengah, dikarenakan komposisi lini belakang yang sudah kompak dan matang.

Hingga pada akhirnya Giovani Trapattoni datang ke Juventus tahun 1976 dimana il Trap mencium bakat Gentile memang tidak di lini tengah. Bersama Trapattoni, Gentile dikembalikan ke habitat naturalnya namun kali ini bergeser menjadi bek kiri. Kendati di sepak bola modern seorang full back terkenal dengan naluri menyerangnya, tidak pada jaman itu. Bermain di sektor sayap kiri, Gentile lebih berfungsi menyeimbangkan sistem permainan tim dan lebih banyak bertahan ketimbang maju menyerang. Gentile bermain cukup baik di sisi kiri pertahanan sampai pada akhirnya di awal musim 1977-1978 Trapattoni memutuskan untuk mempromosikan pemain belia, Antonio Cabrini, sebagai bek kiri inti. Trapattoni tentu tidak melupakan Gentile begitu saja, sebagai pemain yang naturalnya berkaki kanan, Gentile digeser ke sisi kanan dimana dia bermain sama baiknya bahkan kali ini sering membantu menyerang.
Sampai pada akhirnya di tahun 1980 Claudio Gentile akhirnya diposisikan sebagai bek tengah Juventus. Di sini lah Gentile memperkenalkan kepada dunia siapa dirinya sebenarnya. Kemampuannya dalam man marking ditopang dengan partnernya Gaetano Scirea membuat Juventus kala itu memiliki pertahanan super yang saya yakini Leonel Messi sekalipun tidak akan lewat!

Claudio Gentile terkenal juga dengan ketekunannya dalam mempelajari lawan-lawannya lewat rekaman video. Sering kali dia mempelajari lawan dan pemain kuncinya selama beberapa hari dan memberikan solusi untuk meredupkannya. Gentile akan mengahalalkan segala cara dalam menghentikan lawan, dari menekelnya ketika wasit sedang lengah, mencakarnya ketika membantu pemain lawan berdiri, selalu membayangi pemain kunci lawan bahkan mengintimidasi lawan melalui man markingnya yang super ketat. Bahkan legenda Inggris, Gordon Hill mengatakan, “Gentile akan berdiri di atas kepala neneknya demi merebut bola!”

Tahun 1982 adalah puncak dari karir sepak bolanya. Bersama Gaetano Scirea, Gentile bersama-sama membantu Italia memenangkan Piala Dunia 1982 di Spanyol. Italia kala itu harus melewati lawan-lawan berat selama kompetisi. Setelah fase grup pertama dimana Italia hanya finis sebagai runner up, fase grup kedua mereka harus berhadapan dengan Brazil dan Argentina yang diperkuat Zico dan Diego Maradona, dua pemain dunia yang sedang meroket.

Lawan Italia dipertandingan pertama fase grup kedua adalah Argentina. Di interviewnya Gentile mengatakan dia mempelajari gerak-gerik Maradona selama 3 hari sebelum pertandingan. Alhasil Gentile benar-benar mematikan lenggak-lenggok Maradona saat itu. Yang lebih menarik adalah Gentile sama sekali tidak menerima kartu kuning walaupun mengawal ketat dan mengasari Maradona selama pertandingan.Ironisnya, malah Maradona terkena kartu kuning karena terlalu banyak mengeluh! Mengomentari hal ini, Gentile mengatakan, “Sepak bola memang bukan untuk ballerina.”

Terkesan angkuh, namun apa boleh dikata Gentile selalu membuktikan kata-katanya di lapangan. Sadar Italia harus menang demi melangkah lebih jauh, pelatih Italia saat itu, Enzo Bearzot menginstruksikan Gentile untuk mengawal Zico yang merupakan salah satu pemain terbaik dunia setahun sebelumnya ketika berhadapan dengan Brazil. Tanpa ampun Gentile pun mematikan Zico sampai-sampai merobek baju Zico! Gentile tidak berhenti, di final pun tanpa ampun dia mengawal Pierre Littbarski dan juga memberikan cross yang mengawali gol pertama Italia!

image

Banyak yang mengkritik Gentile, banyak pula yang memujinya. Gentile sendiri hanya membuktikan semuanya di lapangan. Terkenal dengan kekerasannya di lapangan, selama kompetisi Piala Dunia 1982 Gentile pun tidak pernah diusir wasit. Gentile memang tidak sekedar mengandalkan otot, kecerdasannya dalam membaca pola permainan dan pergerakan lawan sangat fantastis. Faktor-faktor ini lah yang membuatnya benar-benar disegani lawan. Seorang legenda Argentina lainnya, Mario Kempes pernah berujar, “Seandainya anda pergi ke toilet, Gentile akan terus mengikuti Anda.”

Lebih dari satu dekade bersama Juventus, Claudio Gentile bermain sebanyak 414 kali. Selama itulah Gentile terkenal dengan kekasarannya di atas lapangan tetapi Gentile adalah legenda, Gentile adalah panutan. Bersama Scirea yang terkenal kalem dan tenang, mereka berdua telah memperkenalkan dunia warna Juventus sesungguhnya. Hitam yang melambangkan kekerasan seorang Claudio Gentile dipadukan dengan putihnya ketenangan dan kelas seorang Gaetano Scirea.

Peforma Juventus Pada 10 Pekan Awal & Juve Pekan 25 Pekan Setelahnya Dalam Sudut Pandang Statistik

image

Penampilan juve dalam 10 pekan awal seri A musim ini sebenarnya tidak terlalu buruk seperti yang dituduhkan sebagian besar pengamat. Bahkan dalam beberapa aspek lebih baik daripada 25 pekan setelahnya. Tapi mengapa juve tersendat di awal musim ?? Tentu banyak faktor, mulai dari hengkangnya 3 pemain pilar, cederanya pemain kunci, lambatnya adaptasi pemain baru, jadwal yg kurang menguntungkan (away vs roma, napoli dan inter), dll. Lalu, apa pula yang menyebabkan juve mampu bangkit setelah terpuruk di 10 pekan awal tersebut? Mungkin banyak diantara kita menjawab karena kembalinya pemain pilar sperti marchisio dan khedira, atau juga karena mulai padunya pemain baru dg pemaain lama, adanya program ritiro yang dijalani selepas kalah dari sassuolo, bisa juga faktor keteladanan pemain senior, juga bisa jadi karena kondusifnya ruang ganti pemain, atau membaiknya performa pogba, dll. Semuanya menurut saya jelas berpengaruh. Namun di sini, saya hanya akan mencoba mengupas dari sudut pandang statistik, apa sebenarnya yang membedakan juve di awal musim (10 pekan awal) dengan juve setelah pekan ke-10, yang dengan itu akan terlihat aspek mana saja yang semakin meningkat dalam 25 laga terakhir juve (mulai pekan ke-11 hingga pekan ke-35).

PENYERANGAN
Di awal musim, skema serangan juve sebenarnya tidak terlalu buruk, bahkan boleh dibilang cukup baik, itu bisa dilihat dari banyaknya peluang yang dihasilkan (18,50 shot per game), namun sayangnya banyak diantaranya yang terbuang sia-sia karena penyelesaian akhir yang buruk (conversion rate hanya 6,67%, artinya juve rata-rata butuh 15 peluang untuk bikin 1 gol). Faktor utama dibalik buruknya finishing juve kala itu tak lain tak bukan adalah rendahnya akurasi tembakan para pemain juve yg ketika itu hanya mencapai 29,6%. Hal ini berbanding lurus dengan produktivitas gol para striker juve dalam periode tersebut, tercatat ktika itu Dybala baru mencetak 4 gol (2 gol diantaranya dicetak dari titik penalti), sementara Mandzukic, Morata, dan Zaza masing-masing hanya bisa mencetak 1 gol.
Kondisi tersebut berbeda 180 derajat setelah laga melawan sassuolo di pekan ke-10, dimana setelah itu juve memang cenderung lebih sedikit menciptakan peluang (14,12 shot per game), namun mampu memaksimalkan peluang yang tidak terlalu banyak tersebut untuk menjadi gol (rata-rata mencetak 2,24 gol per game). Hal itu tak lepas dari meningkatnya akurasi tembakan para pemain juve (40,1%), hal ini tentu berpengaruh juga angka penyelesaian akhir yang semakin meningkat (conversion rate 17,39%, yg brarti juve rata-rata hanya butuh 6 peluang untuk mencetak 1 gol). Peningkatan produktivitas gol juve selama 25 pekan terakhir sebagian besar berkat gelontoran gol-gol dari para striker Juve, yakni : dybala (12 gol), mandzukic (9 gol), morata (6 gol), dan zaza (3 gol). Belum lagi sumbangan gol dari barisan pemain gelandang seperti pogba (7 gol), khedira (4 gol), ataupun cuadrado (4 gol).

PERTAHANAN
Di awal2 musim, pertahanan juve sebenarnya tidak terlalu banyak mendapat ancaman dari lawan (8,10 shot conceded per game), ini bisa jadi sebagai efek positif dari tingginya angka ball possession juve ketika itu yg mencapai 57,74%. Akan tetapi, juve kerap kedodoran dengan serangan balik lawan, hal itu seringkali tercipta ketika juve kehilangan bola (25,9 kali loss possession per game), para pemain juve juga kerap melakukan kesalahan2 individual (0,4 individuals error per game). Saat itu, dari 9 gol lawan ke gawang juve, 3 gol diantaranya adalah akibat kesalahan individual pemain juve sendiri. Selain itu, Juve juga kurang cekatan dalam merebut bola (tackle accuration hanya 63,74%) dan lemah dalam melakukan bloking terhadap tembakan lawan (hanya 1,70 bloks per game). Hal itu diperparah dengan masih kurang sigapnya buffon dan neto di bawah mistar. Hal itu tercermin dari rasio saves buffon dalam 10 pekan pertama hanya berada di angka 63,6%, sebuah angka yang cukup rendah untuk seorang legenda seperti buffon. Bahkan ketika itu, juve sering kebobolan dari shot on target pertama lawan (5 dari 9 gol lawan ke gawang juve ketika itu adalah dari shot on target pertama pemain lawan).
Semua aspek-aspek yang lemah dalam pertahanan juve pelan tapi pasti semakin membaik sejak pekan ke-11. Level konsentrasi para pemain juve semakin meningkat, hal itu bisa dilihat dari angka kehilangan bola yang semakin sedikit, kesalahan-kesalahan individual pemain mampu diminimalisir, angka interception semakin baik, akurasi tackle smakin tinggi, dan angka bloking tembakan per game juga semakin meningkat. Dan satu lagi, performa buffon di bawah mistar terus membaik, terhitung sejak pekan ke-11 hingga pekan ke-25 rasio saves buffon mencapai 86,2%, jauh meningkat daripada saat awal2 musim yg hanya 63,6%. Maka tidak mengherankan jika dalam 25 laga tersebut, gawangnya hanya bobol 9 kali (0,36 gol conceded per game), bahkan sempat mencatat sejarah dengan tidak kebobolan dalam 973 menit, terlama di seri A).

KESIMPULAN
Setidaknya ada 3 aspek yang sangat signifikan mempengaruhi hasil-hasil yang diraih juve selama 25 laga terakhir juve, yakni :
1. Akurasi tembakan dan penyelesaian akhir
2. Rasio penyelamatan kiper
3. Angka kesalahan individu
Ketiga aspek tersebut tersebut mampu diperbaiki juve pada pekan ke-11 hingga pekan ke-35, sehingga mampu memenangkan 24 dari 25 laga yang dimainkan dan mengantarkan juve merengkuh scudetto kelimanya secara beruntun.
________
Berikut saya sajikan data statistik performa Juve pada 10 pekan awal dan Juve pada 25 pekan setelahnya.

Aspek permainan juve yang lebih bagus pada pekan ke-1 hingga pekan ke-10 :
1. Shot on Goal
– Pekan 1-10 = 18,50 shot per game
– Pekan 11-35 = 14,12 shot per game
2. Shot Conceded
– Pekan 1-10 = 8,10 shot conceded per game
– Pekan 11-35 = 9,16 shot conceded per game
3. Ball Possession
– Pekan 1-10 = 57,74%
– Pekan 11-35 = 53,96%
4. Pass Accuration
– Pekan 1-10 = 85,70%
– Pekan 11-35 = 84,04%
5. Cross Accuration
– Pekan 1-10 = 27,75%
– Pekan 11-35 = 22,31%
6. Dribble success
– Pekan 1-10 = 14,70 dribble success per game
– Pekan 11-35 = 14,08 dribble success per game
7. Dribble Accuraton
– Pekan 1-10 = 62,70%
– Pekan 11-35 = 59,61%
8. Aerial Won
– Pekan 1-10 = 59,01%
– Pekan 11-35 = 57,61%

Aspek permainan juve yang lebih bagus (membaik) pada pekan ke-11 hingga pekan ke-35 :
1. Shot on Target
– Pekan 1-10 = 5,30 shots per game
– Pekan 11-35 = 5,68 shots per game
2. Shot Accuration
– Pekan 1-10 = 28,6%
– Pekan 11-35 = 40,1%
3. Conversion rate (finishing)
– Pekan 1-10 = 6,67%
– Pekan 11-35 = 17,39%
4. Goal score
– Pekan 1-10 = 1,10 goals per game
– Pekan 11-35 = 2,24 goals per game
5. Goal conceded
– Pekan 1-10 = 0,90 goals conceded per game
– Pekan 11-35 = 0,36 goals conceded per game
6. Tackle success
– Pekan 1-10 = 14,7 tackle success per game
– Pekan 11-35 = 16,76 tackle success per game
7. Tackle Accuration
– Pekan 1-10 = 63,74%
– Pekan 11-35 = 68,25%
8. Interception
– Pekan 1-10 = 15,70 intercepts per game
– Pekan 11-35 = 16,04 intercepts per game
9. Clearance
– Pekan 1-10 = 16,20 clearances per game
– Pekan 11-35 = 17,64 clearances per game
10. Bloked Shots
– Pekan 1-10 = 1,70 bloks per game
– Pekan 11-35 = 2,32 bloks per game
11. Loss Possession
– Pekan 1-10 = 25,90 loss possesion per game
– Pekan 11-35 = 23,76 loss possesion per game
12. Individual Error
– Pekan 1-10 = 0,40 individual error per game
– Pekan 11-35 = 0,24 individual error per game
13. Saves ratio
– Pekan 1-10 = 60,9%
– Pekan 11-35 = 86,2%

Pasangan Bomber Menakutkan Serie A

image

Beberapa tahun lalu Liga Italia punya duet-duet bomber yang sangat menakutkan.. Milan punya duet Pippo-Sheva, Inter punya duet Ronaldo-Vieri, dan Juve punya Del Piero-Trezeguet…

Profil:

1) Milan (Pippo-Sheva)
Filipo Inzaghi adalah striker oportunis yang jarang berlari & mendribel, tapi dia punya kelebihan dalam positioning, dia selalu tahu kapan & dimana dia harus berdiri untuk menunggu assist, meskipun ia sering sengaja menjebakkan dirinya dalam posisi off-side. Partnernya, yaitu Andriy Shevchenko, punya speed & naluri mencetak gol yang sangat tinggi. Bersama Milan, ia pernah menjadi Capocanonieri sebanyak 2x.

2) Inter (Vieri-Ronaldo)
Cristian Vieri memiliki keunggulan fisik yang tinggi kekar sehingga memudahkan dia dalam berduel udara, dan sebagai seorang yang bertubuh tinggi-gempal, dia tetap memiliki speed yang bisa diandalkan. Partnernya, ada Ronaldo! Siapa yg meragukan kualitas Ronaldo saat itu??, selain berhasil meraih trofi Ballon d’Or bersama Inter, ia juga membawa timnas Brazil menjuarai PD 2002 dengan dwi-golnya di partai final.

3) Roma (Totti-Batigol)
Francesco Totti adalah pemain versatile yang bisa meladeni Gabriel Batistuta dalam meneror lini belakang lawan. Ia juga memilki kemampuan bola mati di atas rata-rata. Sementara Batistuta, dia pemain bertipe finisher. Ada yang menjuluki Batigol sebagai si Singa dari ibukota, ketika ia memasuki kotak pinalty, maka kemungkinan mangsanya lolos akan sangat kecil. Bersama duet ini, Roma pernah diantar menjuarai Serie A musim 2000-2001.

4) Lazio (Duo Argetina: Crespo-C.Lopez)
Hernan Crespo adalah striker maut yang memiliki ‘work-rate’ yang sangat tinggi, stamina mumpuni yang memungkinkan dia mengarungi lapangan 90 menit full, pemain ini juga memiliki keunggulan di bola-bola atas. Sementara partnernya, Claudio Lopez memilki speed di atas rata-rata. Pernah ada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa Claudio Lopez ini adalah pesepak bola tercepat di Eropa saat itu. Ia juga diduetkan dengan Crespo di timnas Argentina pada PD 2002.

5) Juventus (Del Piero-Trezeguet)
Del Piero adalah penyerang yang sangat komplet, kedua kakinya hidup, bola yang terlihat susah bagi orang.lain mudah dia peragakan. Menurut Marcello Lippi, bakat yang dimiliki Del Piero hanya terlahir di bumi ini sekali dalam 50 tahun. Pemain ini juga memilki keunggulan di bola2 mati, salah 1 eksekutor bola mati terbaik di Eropa. Sementara partnernya David Trezeguet, ia penyerang oportunis, memilki tipe bermain.seperti Filipo Inzaghi, namun dia memiliki 2 keunggulan yang tidak.dimiliki Inzaghi: Duel Bola2 atas & cara meloloskan diri dari jebakan off-side! Trezeguet juga berhasil meraih gelar top-scorer di musim 2001-2002.

Inilah Faktor X Kekalahan Juve Atas Galatasaray

image

Inilah Faktor X Kekalahan Juve Atas Galatasaray yg kami kutip dan translate se detail mungkin dari Sumber link di bawah (Skysport ) simak fakta berikut ini: Lihat gambar A:

– Kickoff babak pertama Juve berada di sisi kiri lapangan sedang Galatasaray di sisi kanan. Rumput dan kondisi lapangan yg bagus bikin pertandingan berjalan menarik dan terbuka, Llorente nyaris membobol gawang Muslera andai tendangannya tidak melenceng tipis di tiang kanan. Kondisi berbeda ketika hujan salju mulai turun di menit 30. Wasit menghentikan pertandingan dan menundanya sambil menunggu hujan salju reda. Lihat gambar B:

– Dalam 8 menit, lapangan tertutup salju dan petugas mulai membersihkan ‘sebagian’ sisi lapangan. Dengan sisa 15 menit babak pertama, ada indikasi petugas pembersih salju ingin menguntungkan pemain Gala. Petugas membersihkan area kotak penalti Juve sedang kotak penalti Gala hanya dibersihkan salju diatas garis penaltinya saja. Berharap dengan ‘hanya’ membersihkan daerah penalti Juve pemain Gala bisa menyerang dengan kondisi wilayah yg minim salju. Namun keputusan wasit berkata lain, wasit menunda pertandingan keesokan harinya karena hujan salju tidak kunjung reda. Lihat gambar C

– Keesokan siangnya saat dicek, daerah lapangan Juve dipenuhi ‘cakaran’ traktor, mirip dengan kondisi di sawah dengan mesin bajaknya. Sisi kiri lapangan Juve tampak hancur lebur sedang wilayah lapangan Gala tampak mulus. Hal ini tidak jadi halangan buat wasit untuk melanjutkan pertandingannya. 15 Menit terakhir babak pertama dilanjutkan dengan kondisi Gala yg tak mampu menembus kotak penalti Juve karena memang kondisi lapangan yg hancur. Babak pertama berakhir dengan skor 0-0. Lihat gambar D

– Babak kedua dimulai, Juve dan Gala harus bertukar posisi. Sudah lihatan belum curangnya? belum? ok saya jelaskan. Dibabak kedua ini Juve berada di sisi kiri dengan wilayah serang ke kanan (ke sisi kiri lapangan yang hancur) dan Gala berada di sisi kiri dengan wilayah serang kanan di lapangan yg jauh lebih mulus. Babak kedua ini, meski relatif berimbang namun Gala unggul jumlah peluang, lihat Drogba dengan mudahnya menggiring bola sampai kotak penalti Juve. Beda dengan Tevez, drible-nya yang biasanya berjalan mulus, bola jadi sering memantul liar sehingga Tevez berkali-kali gagal menguasai bola dengan baik. Dan dengan sedikit keberuntungan Gala, Sneijder bisa memanfaatkan satu peluang emasnya menjadi gol. Juve pun gagal mengejar margin gol karena lapangan wilayah serangnya yg buruk dan kemudian Gala menumpuk pemain belakang dan mengandalkan serangan balik.

Kesimpulan:
Gala hanya ‘menderita’ 15 menit (akhir babak pertama) sedang Juve harus menderita di 45 menit terakhir alias babak kedua. Menderita karena mempunyai kondisi wilayah serang yg
buruk. Analisa yg di kutip dari analisa Skysport di ( http://video.sky.it/sport/champions-league/galatasarayjuventus_furbizia_turca/v181436.vid ).

10 Klub Eropa Yang Unbeaten

Inilah Top 10 Klub Eropa yang memiliki
rekor Unbeaten paling terbanyak di liga
lokal :

No. Klub (Asal) : jumlah match : Tahun

1. Steaua Bucharest (Rumania) : 104 :
17/8/1986 – 9/9/1989

2. Celtic (Scotlandia) : 62 : 20/11/1915 – 21/4/1917

3. AC Milan (Italy) : 58 : 26/5/1991 –
21/3/1993

4. Benfica (Portugal) : 56 : 24/10/1976
– 1/9/1978

5. FC Porto (Portugal) : 55 : 2010 – 2011

6. Ajax (Belanda) : 52 : 28/8/1994 –
14/1/1996

7. Arsenal (Inggris) : 49 : 7/5/2003 –
24/10/2004

8. Juventus (Italia) : 49 : 2011-2012

9. Dinamo Bucharest (Romania) : 47 :
26/5/1991 – 26/9/1992

10. Nottingham Forest (Inggris) : 42 :
26/11/1977 – 9/12/1978

Sumber : talksport.co.uk

10 Pemain Dengan Penampilan Terbanyak Di Serie-A

Daftar 10 Besar Pemain Dengan Jumlah
Penampilan Terbanyak Sepanjang Sejarah
Serie-A :

1. Paolo Maldini 1984–2009 647 laga.

2. Javier Zanetti 1995–… 595 laga.

3. Gianluca Pagliuca 1987–2007 592 laga.

4. Dino Zoff 1961–1983 570 laga.

5. Pietro Vierchowod 1980–2000 562 laga.

6. Roberto Mancini 1981–2000 541 laga.

7. Silvio Piola 1929–1954 537 laga.

8. Enrico Albertosi 1958–1980 532 laga.

9. Gianni Rivera 1958–1979 527 laga.

10. Francesco Totti 1992–… 524 laga.

5 Besar Kiper Top di Serie A Musim 2012-2013

image

5. Mattia Perin Jadi bagaimana bisa penjaga gaang tim yang sejauh ini telah kebobolan terbanyak di Serie A (48) berada pada posisi yang sangat menyanjung daftar nya? Baru-baru ini keeper 20 tahun Phenom Mattia Perin telah dibandingkan dengan Buffon Sudah Gigi sebagai kiper Italia yang besar berikutnya. Sudahlah fakta yang terlihat Perin memiliki kecepatan, dan salah satu dari The greatest goalkeeping performances saat saat melawan Fiorentina. Dalam game ini ia mencatat 15 penyelamatan, salah satu yang terbanyak dari kiper manapun di lima liga top Eropa musim ini

4. Stefano Sorrentino 33-tahun Yang telah bermain di mana- mana dari Spanyol ke Yunani dan kembali ke Italia. Stefano Sorrentino kini telah bergabung dengan Palermo di jendela transfer Januari, di mana ia tampak baik untuk memperketat pertahanan timnya yang buruk.

3. Samir Handanovic Mungkin kiper asing terbaik di Italia saat ini.

2. Gianluigi Buffon Membuat daftar tanpa kiper top Gianluigi Buffon Harus Dianggap sebagai sebuah kejanggalan. Pemain internasional Italia,yang oleh pelatih Cesare Prandelli dilabeli predikat untouchable, hampir tak pernah tampil mengecewakan di Juventus. Dia kapten garis pertahanan Juventus yang mengukirkan rekor bersejarah dengan 49 pertandingan tak terkalahkan dalam negeri, dan dikenal sebagai salah satu yang terbaik di posisinya.

1. Federico Marchetti Lazio kiper Federico Marchetti tak kekurangan kelas di dunia musim ini. Federico menunjukan beberapa refleks tercepat di Eropa. Rangkaian pertunjukan yang luar biasa telah menyebabkan pelatih tim nasional Italia Cesare Prandelli memanggil dia dalam match Italia melawan Belanda lalu.